• 1.1. Menerima kebesaran Allah Swt. melalui istigfar.
• 2.1. Menunjukkan sikap rendah hati dan pemaaf
sebagai wujud implementasi istigfar.
• 3.1. Memahami makna dan ketentuan istigfar.
• 4.1. Mengomunikasikan arti dan hikmah istigfar.
Tujuan Pembelajaran :
1. memahami makna dan ketentuan Istighfaar dengan benar.
2. mengomunikasikan arti dan hikmah Istighfar dengan tepat.
Kembangkan wawasanmu
A. Pengertian Istigfar
Istigfar adalah tindakan meminta maaf atau memohon ampunan kepada Allah Swt. Istigfar merupakan perbuatan yang sangat penting untuk dilakukan oleh setiap muslim sebagai hamba Allah Swt. yang penuh dengan dosa dan salah.
Arti dari kalimat "astaghfirullahalazim" adalah “Aku mohon ampun kepada Allah Swt.Yang Maha Agung”.
Istigfar, kalimat yang sangat pendek, tetapi memiliki makna yang sangat dahsyat,sangat dalam, dan sangat indah dalam hidup kita. Kalimat istigfar tidak hanya diucapkan di saat seorang muslim berbuatkesalahan dan dosa, namun juga diucapkan setiap hari.
Setiap selesai shalat, istigfar selalu diucapkan, sebagai wujud sikap menyesal atas kesalahan atau dosa yang dilakukan. Dengan beristigfar seseorang telah bertobat kepada Allah Swt.
B. Luasnya Ampunan Allah Swt
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Ia sering berbuat kesalahan, baik kepada Allah Swt. maupun kepada manusia, baik itu dosa atau kesalahan kecil maupun yang besar, baik itu yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tak ada manusia
yang bersih dari salah dan dosa, kecuali para nabi.
Sebaik-baik orang yang bersalah dan berdosa adalah yang bertobat dan Allah Swt. sangat menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Rahmat dan ampunan Allah Swt. sungguh sangat luas bagi hambanya yang mau bertobat. Meskipun dosa seorang hamba sebesar gunung, seluas langit dan bumi namun jika dia insyaf dan bertobat dengan sungguhsungguh, maka dosa tersebut bisa terhapus. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam al-Qurʼan Surah az-Zumar ayat 53-54
Jadi, jika seseorang telah berbuat salah atau dosa hendaknya segera bertobat. Jangan ditunda-tunda. Apalagi menunggu di saat sudah tua. Demikian juga di saat kita bersalah kepada sesama manusia, kita harus segera meminta maaf. Dan jika orang lain yang bersalah kepada kita, kita pun harus segera
memaafkannya. Tidak perlu menunggu hari raya. Sebagian orang mungkin menunggu hingga lebaran datang. Hal ini sungguh tidak dibenarkan. Tidak ada yang mengetahui kapan ajal (kematian) seseorang akan datang.
Bagaimana cara kita memohon ampun dan meminta maaf?
Jika kesalahannya kepada Allah Swt. hendaknya memperbanyak membaca istigfar, berjanji tidak akan mengulanginya, dan segera berbuat kebaikan. Karena kebaikan akan menghapus keburukan.
Jika kesalahannya kepada sesama manusia, hendaknya: membaca istigfar, bertemu dan meminta maaf secara langsung kepada orang yang bersangkutan, dan mengembalikan hak-haknya.
C. Hikmah Beristigfar
Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari pembiasaan membaca istighfar yaitu:
1. hati menjadi tenang
2. diampuni salah dan dosanya oleh Allah Swt.
3. diberikan kelapangan rezeki
4. selalu memiliki sikap rendah hati dan tidak sombong
D. Rendah Hati dan Pemaaf
Rendah hati atau tawadhu merupakan suatu sikap menyadari keterbatasan kemampuan diri, dan ketidak mampuan diri sendiri, sehingga seseorang tidak menjadi angkuh, tidak angkuh dan tidak sombong. Dengan sikap dan sifat rendah hati seseorang akan lebih mudah menjadi seorang yang pemaaf, sebab dengan rendah hati kita akan memiliki kemampuan untuk mengakui kesalahan diri, ketidak sempurnaan kesenjangan / keterbatasan diri dan keterbukaan untuk menerima kritikan, masukan ide-ide baru, dan saran.
Ada beberapa ciri pada seseorang yang memiliki sikap dan sifat rendah hati dan pemaaf, yaitu:
tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal.
menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya (sportif dan jujur)
tidak segan dan malu bergaul dengan fakir miskin bahkan membantu mereka.
ringan tangan dalam membantu orang-orang yang memerlukan bantuan
tidak merasa berat berterima kasih atas kebaikan orang lain dan tidak keberatan untuk memaafkan mereka yang telah berbuat salah.
demikian ananda semua, materi pelajaran tentang
kalimat thayibah istighfar, baca dan tulis lah yang
Madinah adalah kota tujuan hijrah Rasulullah Saw. Setelah hijrah, Nabi membangun masyarakat Madinah menjadi masyarakat yang taat beribadah, cinta ilmu, penuh persaudaraan dan kasih sayang, sejahtera, adil, dan makmur. Hal ini berkat pembinaan yang dilakukan Rasulullah Muammad Saw. Apa saja yang dibina Rasulullah Saw. di Madinah? Rasulullah Saw. membina masyarakat dalam berbagai bidang, baik bidang agama, ekonomi, sosial, maupun pertahanan. Kalian tentu tahu jika dalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali hal-hal yang harus dibina.
A. Pembinaan Bidang Agama
Setelah Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah, Nabi kemudian membangun masjid. Masjid tersebut dinamakan Masjid Nabawi yang dijadikan sebagai pusat ibadah bagi Nabi dan para sahabatnya, masjid juga dijadikan tempat dakwah Islamiah, salat berjamaah di Masjid dan semangat mencari ilmu bersama Nabi Muhammad Saw. Sebagian sahabat bahkan tinggal di serambi masjid dan dengan penuh ketekunan memahami agama secara mendalam (tafaqquh fiddin). Mereka yang tinggal di serambi masjid disebut ahl suffah.
Nabi Saw mengajarkan sahabat agar rajin salat di masjid, berzikir, iktikaf dan membaca al-Qur’an. Nabi Saw juga mengajarkan berbagai macam ilmu kepada sahabat dan menyilakan sahabat untuk bertanya dan berdiskusi dengan Nabi Saw.
Upaya Nabi Muhammad Saw membina masyarakat Madinah membuahkan hasil gemilang sehingga masyarakat Madinah rajin beribadah, mempunyai keimanan yang kuat, dan rajin menuntut ilmu. Masyarakat Madinah menjadi masyarakat religius dan pembelajar.
B. Pembinaan Bidang Sosial
Nabi Muhammad Saw. menguatkan ikatan persaudaran sesama muslim, hidup saling tolong menolong dan saling mengasihi. Karena itu, kaum muslim Madinah menganggap kaum muslim dari Makkah (Muhajirin) sebagai suadara. Ikatan persaudaraan yang tadinya berdasarkan karena nasab dan suku, sekarang didasarkan pada ukhuwah Islamiah (persaudaraan keislaman). Ikatan ini lebih kuat karena adanya kesamaan akidah dan keimanan.
Rasulullah Saw. melarang keras sahabatnya saling mencaci dan memfitnah. Karena fitnah termasuk dosa besar. Mencaci maki juga dilarang karena menyebabkan pertengkaran dan permusuhan. Sebaliknya Rasulullah Saw. menekankan para sahabat untuk husnuzan dan tabayun (klarifikasi) agar tidak terjadi salah paham. Rasulullah Muhammad Saw. juga menekankan kebersihan di lingkungan masyarakat Madinah. Dengan demikian, lingkungan masyarakat Madinah juga bersih dan indah.
C. Pembinaan Bidang Ekonomi
Rasulullah Muhammad Saw. membina masyarakat Madinah dalam bidang ekonomi dengan memberdayakan potensi umat Islam di Madinah. Di antaranya adalah:
Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat yang mempunyai keahlian bercocok tanam menggarap lahan milik sahabat lainnya. Prinsip yang diajarkan adalah melalui pengerjaan lahan dari pemilik lahan kepada si penggarap dengan pembagian hasil panennya, yang dikenal dengan istilah muzara’ah dan mukhabarah. Dengan demikian akan terjadi kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan. Kota Madinah pun menjadi salah satu penghasil kurma (tamar) terbesar.R
Rasulullah Saw. membagi sejumlah lahan kepada sahabat yang belum mempunyai lahan untuk tempat tinggal maupun bertani. Dengan demikian, terjadi pemerataan kepemilikan lahan. Para sahabat memanfaatkan lahan tersebut dengan bercocok tanam, berkebun, dan bertani.
Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat mendirikan pasar. Rasulullah Saw. sendiri yang mengawasi pengelolaan pasar ini sehingga menjadi pusat perekonomian di Madinah.
Rasulullah Saw. mendirikan Baitulmal dan mengatur distribusi (pembagian) zakat, infaq dan sedekah.
Rasulullah Saw. menerapkan pajak (jizyah) bagi penduduk Yahudi sebesar 1 dirham per tahun bagi setiap laki-laki dewasa. Rasulullah Saw. juga menerapkan bea masuk bagi barang yang datang dari luar Madinah. Hal ini untuk menambah pemasukan negara sekaligus melindungi (proteksi) barang lokal milik penduduk Madinah. Hasil bea masuk ini untuk kepentingan masyarakat Madinah.
D. Pembinaan Bidang Pertahanan
Rasulullah Saw. cinta damai Beliau cinta damai tetapi jika ada rongrongan musuh beliau siap mempertahankan diri
dengan semangat perjuangan yang tinggi. Karenanya Setelah enam bulan di Madinah, untuk kepentingan pertahanan, Rasulullah Saw. membentuk satuan-satuan tentara (sariya). Di antara pemimpin satuan pasukan tersebut adalah sahabat Hamzah, sahabat 'Ubaidah bin Harits dan sahabat Sa'd bin Abi Waqash
Perkembangan Islam di Madinah sangat pesat. Berbagai aspek kehidupan masyarakat Madinah baik bidang agama, sosial, maupun ekonomi berhasil membawa masyarakat Madinah sejahtera lahir batin. Rasulullah Saw. juga membangun pemerintahan Madinah dengan prinsip musyawarah sebagaimana tuntunan Al-Qur’an. Keberhasilan ini
membuat kaum kafir Quraiys tidak suka dan merasa terancam. Hal ini menyebabkan mereka menyusun rencana memusuhi dan menyerang Islam.
Sejumlah ancaman kaum kafir Quraiys benar-benar dilancarkan kepada kaum muslimin di Madinah, sehingga terjadilah perang antara kaum muslimin dan kaum kafir.
Peristiwa perang yang terjadi di antaranya adalah:
Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 H (624M). Perang ini terjadi di dekat sumur milik Badar.
Perang Uhud yang terjadi pada tahun ke-3 hijriah (625 M) di bukit Uhud
Perang Khandaq yang terjadi pada bulan Syawal Tahun 5 H (627 M)
MEMOHON PERTOLONGAN ALLAH SWT
DENGAN KALIMAT TAYYIBAH HAUQALAH
Bacaan hauqolah yaitu Lā haula wa lā quwwata illā billāh. Artinya “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah”. Kalimat ini menyatakan kepasrahan hamba kepada Allah yang menguasai seluruh alam. Semua kekuatan yang dimiliki manusia tidak lain berasal dari pertolongan-Nya.
Pengertian Kalimat Thayyibah
Kalimat thayyibah artinya kalimat atau ucapan yang baik. Dalam kehidupan sehari-sehari, kita sebagai orang Islam harus membiasakan mengucapkan perkataan yang baik dan yang bermanfaat. Apabila tidak bisa berkata baik, hendaklah kita diam. Perhatikan sabda Nabi Muhammad Saw: “Barang siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (H.R. Muttafaq alaih).
Kalimat thayyibah bermakna sebagai kalimat baik yang berisi sanjungan dan pujian terhadap keagungan Allah swt. Balasan kebaikan pasti diperoleh bagi seorang hamba yang mau mengamalkan kalimat thayyibah dalam kehidupan sehari-hari, baik itu balasan yang secara langsung diterima di dunia dengan disukai oleh lingkungan sekitar maupun kelak di akhirat dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang abadi.
Mengucapkan Kalimat Thayyibah Hauqalah
Allah Swt melalui Rasulullah Saw telah mengajarkan manusia untuk berakhlak mulia yang tercermin melalui ucapan dan perbuatan yang baik. Ucapan yang baik disebut kalimat thayyibah. Banyak kalimat thayyibah yang bisa kita amalkan di antaranya adalah hauqalah.
“La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim”
Artinya : Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Swt yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Kalimat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita memohon kepada Allah Swt untuk selalu diberikan kemampuan dan kekuatan untuk melakukan segala aktivitas yang tentunya harus bernilai ibadah. Ketika kita menggantungkan harapan hanya kepada Allah Swt, maka tidak ada yang tidak mungkin atas kehendak-Nya. Seberat apapun hidup yang kita jalani, hendaknya selalu bersikap optimis dan tidak putus asa karena yakin bahwa Allah Swt akan menolong.
Waktu Mengucapkan Kalimat Thayyibah Hauqalah
Pengucapan kalimat thayyibah sesuai dengan situasi dan kondisi suatu peristiwa yang dialami oleh seseorang. Waktu yang tepat mengucapkan kalimat thayyibah hauqalah adalah:
Apabila mendapatkan beban berat atau mengalami berbagai kesulitan dalam hidup ini, seperti ditimpa penyakit dan terkena musibah banjir.
Ketika mendengar seruan azan. Orang yang mendengar seruan azan disunahkan untuk menjawabnya dengan cara menirukan kalimat muazin, kecuali ketika sampai pada lafal hayya alas shalah dan hayya alal falah, bila muazin mengumandangkan dua kalimat tersebut, maka kita menjawabnya dengan kalimat hauqalah.
Ketika meminta pertolongan kepada Allah Swt. Dzikir yang agung tersebut merupakan kalimat isti’anah (memohon pertolongan), sehingga sangat dianjurkan membaca kalimat thayyibah hauqalah saat ingin meminta pertolongan kepada Allah Swt.
Hikmah Mengucapkan Kalimat Thayyibah Hauqalah
Banyak keistimewaan atau hikmah dengan membiasakan mengucapkan kalimat tayyibah hauqalah, di antaranya adalah:
Menghapus dosa-dosa.
Merupakan salah satu amal saleh yang berpahala abadi.