Jumat, 20 September 2024

10 Kalimat Thayyibah, Artinya dan Waktu yang Tepat Mengucapkan

10 Kalimat Thayyibah, Artinya dan Waktu yang Tepat Mengucapkan


Islam mengajarkan kalimat thayyibah untuk diucapkan umatnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain berpahala, kalimat thayyibah ini juga membuat hati tenang dan damai karena ia merupakan bagian dari dzikir. Membuat orang yang mengamalkannya senantiasa ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalimat thayyibah (الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ) berasal dari dua kata. Yakni al kalimah (الْكَلِمَةُ) yang berarti kata atau kalimat. Dan at thayyibah (الطَّيِّبَةُ) yang berarti baik. Jadi kalimat thayyibah adalah kalimat-kalimat kebaikan yang jika diucapkan akan mendapat pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada banyak jenis kalimat thayyibah. Di antaranya adalah 10 kalimat berikut ini:

1. Basmalah

Yang pertama adalah basmalah. Yakni bacaan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

(Bismillaahirrahmaanirrahiim)

Artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Waktu yang tepat mengucapkan:

Sunnah mengucapkan basmalah ketika kita memulai suatu amal atau aktivitas kebaikan. Misalnya belajar, makan, minum, mengaji, bekerja, berkarya dan lain sebagainya.

Keutamaan Membaca Basmalah:

  • Aktivitas kebaikan yang diawali basmalah akan mendapatkan pahala dan keberkahan. Sebaliknya, aktivitas yang tidak diawali basmalah akan terputus keberkahannya.
  • Menjadi penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia
  • Menjadi syarat halal penyembelihan hewan. Sebaliknya, menyembelih hewan tanpa menyebut nama Allah membuat daging hewan tersebut haram.
  • Syetan mengecil menjadi seukuran lalat ketika seseorang mengucapkan basmalah
  • Bacaan basmalah menjadi penghalang syetan saat makan

2. Ta’awudz

Kalimat thayyibah yang kedua adalah ta’awudz. Yakni bacaan:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

(A’uudzu billaahi minasy syaithoonir rojiim)

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk

Waktu yang tepat mengucapkan:

Ketika hendak membaca Al Qur’an dan ketika meminta perlindungan dari syetan merupakan waktu yang tepat mengucapkan taawudz.

Keutamaan Membaca Taawudz:

  • Mendapat pahala
  • Sunnah membacanya ketika hendak membaca Al-Qur’an
  • Mendapat perlindungan Allah dari godaan syetan
  • Merupakan salah satu doa ruqyah dan penjagaan dari syetan

3. Istirja’

Kalimat yang ketiga adalah istirja’. Yakni bacaan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun)

Artinya: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali

Waktu yang tepat mengucapkan:

Istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rajiun) diucapkan ketika mengalami musibah, mendengar kabar duka atau ada seseorang yang meninggal dunia

Keutamaan Membaca Istirja’:

  • Mendapat pahala
  • Ucapan istrija’ merupakan tanda kesabaran
  • Mendapatkan keberkahan dan ganti atas musibah yang terjadi
  • Mendapatkan rahmat dari Allah
  • Mendapatkan petunjuk dari Allah

4. Tasbih

Kalimat thayyibah keempat adalah tasbih yang berarti mensucikan Allah. Yakni bacaan:

سُبْحَانَ اللَّهِ

(Subhaanallah)

Artinya: Maha Suci Allah

Waktu yang tepat mengucapkan:

Ketika kita heran terhadap suatu sikap atau ketika melihat maupun mendengar sesuatu yang tidak pantas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan waktu yang tepat mengucapkan tasbih. Namun, boleh juga mengucapkannya ketika kagum atau takjub. Lebih lengkap, baca penjelasannya di artikel Kagum Subhanallah atau Masya Allah.

Tasbih juga diucapkan ketika melewati jalanan yang menurun. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya.

Keutamaan Membaca Tasbih:

  • Mendapat pahala
  • Bernilai sedekah
  • Membaca tasbih satu kali akan mendapat 10 kebaikan dan terhapus 10 kejelekan
  • Menggugurkan dosa
  • Kalimat yang Allah cintai

5. Tahmid

Kalimat berikutnya adalah tahmid (memuji Allah). Yakni bacaan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ

(Alhamdulillah)

Artinya: Segala puji bagi Allah

Waktu yang tepat mengucapkan:

Tahmid merupakan ucapan syukur kepada Allah. Maka, ketika mendapat nikmat, rezeki, hal-hal yang kita sukai atau selamat dari suatu musibah merupakan waktu yang tepat mengucapkan hamdalah.

Keutamaan Membaca Tahmid:

  • Mendapat pahala
  • Bernilai sedekah
  • Kalimat yang Allah cintai
  • Allah akan menambah nikmat-Nya
  • Mendatangkan keberkahan

6. Takbir

Kalimat thayyibah keenam adalah takbir. Yakni bacaan:

اَللَّهُ أَكْبَرُ

(Allaahu akbar)

Artinya: Allah Maha Besar

Waktu yang tepat mengucapkan:

Ketika melihat tanda kebesaran dan keagungan Allah merupakan waktu yang tepat mengucapkan takbir. Juga ketika melewati jalan yang naik atau menanjak. Tasbih, tahmid dan takbir juga menjadi dzikir rutin Rasulullah setelah shalat.

Keutamaan Membaca Takbir:

  • Mendapat pahala
  • Bernilai sedekah
  • Kalimat yang Allah cintai
  • Menghapus dosa
  • Menguatkan semangat dan keberanian

7. Tahlil

Kalimat berikutnya adalah tahlil. Yakni bacaan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

(Laa ilaaha illallah)

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah

Waktu yang tepat mengucapkan:

Tahlil merupakan ucapan untuk menegaskan tauhid, hanya beribadah kepada Allah. Seseorang yang masuk Islam, ia harus membaca syahadat yang berisi kalimat tahlil. Membaca tahlil sebagai dzikir setelah shalat juga merupakan waktu yang tepat. Dan juga mentalqin orang yang hendak meninggal (sakaratul maut).

Keutamaan Membaca Tahlil:

  • Mendapat pahala
  • Bernilai sedekah
  • Kalimat yang Allah cintai
  • Menghapus dosa
  • Dzikir yang paling utama

8. Hauqalah

Kalimat thayyibah kedelapan adalah hauqalah. Yakni bacaan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

(Laa haula walaa quwwata illa billah)

Artinya: Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah

Waktu yang tepat mengucapkan:

Hauqalah diucapkan ketika seseorang menghadapi tantangan, kesulitan atau sesuatu yang berat. Bahkan ketika ada seruan menuju shalat dan kemenangan dalam adzan, jawabannya adalah kalimat hauqalah.

Keutamaan Membaca Hauqalah:

  • Mendapat pahala
  • Bernilai sedekah
  • Menjadi simpanan berharga di surga
  • Mendatangkan kekuatan dari Allah

9. Istighfar

Istighfar merupakan salah satu kalimat thayyibah. Ia adalah permohonan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni bacaan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

(Astaghfirullah)

Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah

Atau

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ

(Astaghfirullahal ‘adhiim)

Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung

Waktu yang tepat mengucapkan:

Ketika melakukan kesalahan atau telah berbuat dosa, saat itu adalah waktu yang sangat tepat untuk segera mengucapkan istighfar. Ia juga menjadi salah satu bacaan dzikir pada pagi dan petang, setelah sholat, dan lain-lain.

Keutamaan Membaca Istighfar:

  • Mendapat ampunan Allah
  • Mendapatkan rahmat Allah
  • Mendapat keberuntungan
  • Mendapat kebahagiaan
  • Hujan dan keberkahan langit
  • Membuka pintu rezeki
  • Mendapatkan keturunan
  • Keberkahan bumi
  • Ditambah kekuatannya
  • Dikabulkan doanya

10. Salam

Kalimat selanjutnya adalah salam. Yakni bacaan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ

(Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarookaatuh)

Artinya:

Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkahNya limpahkan kepada kalian

Waktu yang tepat mengucapkan:

Waktu mengucapkan salam adalah ketika bertemu dengan sesama muslim. Kalimat ini juga diucapkan ketika mengakhiri shalat. 

Keutamaan Membaca Salam:

  • Berpahala
  • Merupakan doa
  • Mendapat keselamatan, baik yang membaca maupun yang menerima salam
  • Mendapat rahmat Allah, baik yang membaca maupun yang menerima salam
  • Mendatangkan keberkahan, baik yang membaca maupun yang menerima salam

Demikian 10 kalimat thayyibah beserta tulisan Arab, artinya, keutamaan dan waktu yang tepat mengucapkan. Semoga kita terbiasa mengamalkannya sehingga lebih dekat kepada Allah serta mendapatkan keutamaan-keutamaannya. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : https://bersamadakwah.net

Minggu, 11 Agustus 2024

10 Fenomena Shalat Jumat yang Harus Diperbaiki

MENINGGALKAN salat Jumat tidak termasuk dalam bahasan ini. Sebab meninggalkan salat Jumat adalah dosa besar.

Tulisan ini hanya merekam fenomena di masyarakat terkait kesalahan atau kekurangan sebagian masyarakat kita dalam salat Jumat yang perlu diperbaiki.

1. Terlambat ke masjid

Sebagian masyarakat kita mengerjakan salat Jumat, namun terlambat datang ke masjid. Tidak sedikit yang tiba di masjid setelah khatib naik mimbar. Padahal Allah memerintahkan agar umat Islam bersegera ke masjid pada hari Jumat sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Jumuah ayat 9.

Rasulullah menjelaskan dalam hadisnya bahwa ketika khatib Jumat telah naik mimbar, malaikat yang mencatat jemaah salat Jumat dan menuliskan keutamaan bagi mereka, menutup kitabnya saat khatib telah naik mimbar demi mendengarkan khutbah Jumat.

2. Tidak mandi Jumat

Mandi Jumat adalah salah satu sunah sebelum salat Jumat. Fenomena yang terjadi, banyak yang meninggalkan sunah ini. Sebagian karena alasan bekerja sehingga tidak sempat mandi. Padahal, bisa disiasati setidaknya dengan mandi sebelum berangkat kerja. Tentu bukan mandi biasa melainkan mandi besar dengan niat sunah hari Jumat.

3. Tidak memakai minyak wangi

Ini juga fenomena umum. Meskipun tidak berdosa, tetapi kurang utama. Sebab ini kesunahannya; memakai minyak wangi. Yang lebih parah, sudah tidak mandi, tidak pakai minyak wangi, bau keringat dan tidak sedap pula. Mengganggu jemaah lainnya, kan.

4. Tidak mengambil shaf terdepan

Entah mengapa, banyak orang menghindari posisi depan. Ada pertemuan atau taklim, pilih di belakang. Salat Jumat juga demikian. Meskipun shaf terdepan masih ada yang kosong, sebagian orang memilih di shaf belakang. Bahkan ada juga yang begitu datang langsung memilih posisi di teras.

5. Tidak membaca doa masuk masjid

Tidak sedikit orang yang asal masuk masjid. Tanpa berdoa. Apalagi yang memang datangnya terlambat, ia buru-buru sehingga banyak adab masuk masjid yang terabaikan.

6. Tidak salat sunah tahiyat masjid

Salah satu sunah masuk masjid adalah salat tahiyatul masjid dua rakaat sebelum duduk. Meskipun sunah, Rasulullah memerintahkan seseorang yang datang terlambat salat Jumat untuk salat terlebih dahulu. Meskipun mendengarkan khutbah hukumnya wajib, ternyata salat sunah ini diprioritaskan Rasulullah sebelum orang itu duduk.

7. Tidur saat khutbah

Fenomena ini banyak terjadi. Hampir merata di masjid-masjid. Bukannya khusyuk mendengarkan khutbah, sebagian jemaah justru tidur atau tertidur saat khatib berkhutbah. Alhasil, ia kehilangan esensi salat Jumat.

8. Tidak berdoa antara dua khutbah

Ketika khatib duduk di antara dua khutbah, waktu itu adalah waktu mustajab untuk berdoa. Sayangnya, banyak orang melewatkannya begitu saja. Fenomena ini juga terkait dengan fenomena sebelumnya, karena tidur, tak mungkinlah ia berdoa.

9. Khutbah terlalu lama

Jika delapan fenomena sebelumnya banyak dialami jemaah, fenomena kesembilan ini perlu menjadi perhatian para khatib. Sebagian khatib khutbahnya terlalu lama. Karena terlalu lama, jemaah yang mengantuk mendapatkan kesempatan banyak untuk tidur. Rasulullah mencontohkan, khutbah beliau singkat dan salatnya agak lama. Khutbah beliau juga lantang seperti komandan perang memberikan instruksi pada pasukan.

10. Salam langsung pulang

Sudah datangnya terlambat, pulangnya paling cepat. Fenomena itu masih ada, meskipun tidak banyak. Begitu salam langsung pulang. Tanpa berdoa, tanpa salat sunah. Di rumah pun, juga tidak salat sunah.


Semoga 10 fenomena tersebut bisa kita perbaiki bersama. Jika pada Jumat ini masih kita alami, semoga di Jumat-Jumat berikutnya bisa kita hindari. Wallahu A’lam bish shawab.

Copy@eramuslim.com, Medan,11 Agustus 2024


Sabtu, 24 Februari 2024

Aqidah Akhlak Kelas 6 BAB VII

D. Hikmah al-Wahid, al-Ahad dan as-Shomad 

1. Al-Wahid dan al-Ahad 

Asmaul husna al-Wahid dan al-Ahad merupakan dua nama yang saling memiliki keterkaitan makna, maka ketika kita beriman kepada keduanya dan memahaminya dengan benar maka kita akan mendapatkan hikmahnya, yaitu:

a. Semakin meyakini bahwa tidak ada yang menyamai dan menandingi Allah Swt. , serta tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala segi. Sehingga dapat menjauhi perbuatan syirik.  (Terhindar dari perbuatan syirik)

b. Semakin meyakini bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan dan aib. Karena kekurangan dan aib merupakan sifat para makhluk, sementara Allah Swt. adalah Dzat yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia tanpa ada satu makhluk pun yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian kita akan selalu menjaga kebersihan hati, jiwa, dan badan kita.

c. Semakin ikhlas dalam beribadah, serta meyakini bahwa Allah Swt. satu-satunya Dzat yang memiliki dan menguasai diri kita, ibadah kita, hidup dan mati kita.

d. Merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan semua aliran sesat yang sama sekali tidak menghormati dan mengagungkan Allah Swt. dengan penghormatan dan pengagungan yang semestinya.

2. As-Shamad

Adapun hikmah setelah kita belajar memahami asmaul husna as-Shamad adalah:

a. Tidak bermohon kecuali kepada Allah Swt. .

b. Menjadikan Allah Swt. sebagai tumpuhan pertama dan utama dalam meminta semua keinginan dan hajat kita baik di dunia maupun di akhirat. 

c. Dapat menyelamatkan urusan orang lain dengan tenaga, pikiran, dan tutur kata yang baik.

d. Berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain baik dalam urusan agama dan dunia. 


Soal

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

  1. Tulislah arti dari asmaul husna as shamad!
  2. Tulislah bukti Allah bersifat dengan asmaul husna as shamad!
  3. Tulislah cara meneladani asmaul husna as shamad!
  4. Rahma selalu besikap ramah dan suka menolong kepada siapa saja, hal ini menunjukkan bahwa rahma meneladani asmaul husna .
  5. Tulislah 2 hikmah asmaul husna as shamad!
  6. Tulislah penjelasan / makna dari surat Al Ikhlas : 2!

Kamis, 22 Februari 2024

HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE THAIF

Assalamualaikum Ananda semuanya, semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat. Pada kesempatan ini kita akan belajar materi melalui Latihan Soal Penilaian Harian/ Ulangan Harian/ Sumatif Harian Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas 4 MI Semester 2 Bab 4 Hijrah Nabi Muhammad ke Thaif.

Oya Ananda semuanya materi bab keempat ini membahas tentang hijrah Nabi Muhammad Saw. ke kota Thaif. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca melalui rangkuman materi berikut ini,

1.   Sebab-sebab Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif 

a. Setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, tekanan kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Saw. semakin gencar.

b. Nabi Muhammad  Saw. akan mendapat perlindungan dari kerabatnya yang menjadi pemimpin di Thaif.

c. Memperluas dakwah Islam dari kota Makkah menuju kota Thaif secara damai dan tenang. 

2.  Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Thaif terjadi pada bulan Syawal tahun ke sepuluh kenabian. Beliau hijrah ditemani oleh Zaid bin Haritsah

3. Ketika hijrah ke Thaif, yang pertama ditemui oleh Nabi Muhammad Saw. adalah  Kinanah, Mas’ud dan Habib

4. Para pemimpin kota Thaif menolak dakwah Nabi Muhammad Saw. yang diikuti oleh penduduk Thaif mengejek, menyakiti Rasulullah Saw. dengan melempari batu.

5. Ketabahan Nabi Muhammad Saw. ketika hijrah ke Thaif   

a. Tabah ketika di tinggal wafat Khadijah dan Abu Thalib  

b. Tabah ketika di tolak dakwahnya oleh pemimpin kota Thaif

c. Tabah ketika diusir oleh penduduk kota Thaif

d. Tabah ketika dilempari batu oleh penduduk kota Thaif  

e. Tabah ketika jalannya tertatih-tatih karena kaki Rasulullah terluka  

6. Nabi Muhammad Saw.  bisa memasuki kembali kota Makkah atas jaminan perlindungan keamanan dari Mut’im bin Adi.

Nah, semua materi tersebut dapat Ananda pelajari dalam bentuk latihan soal di bawah.

Baik, melalui soal di bawah ini, Ananda semuanya dapat belajar sekaligus melatih kemampuan atas kompetensi yang sudah diajarkan di madrasah.

Latihan Soal Penilaian Harian/ Ulangan Harian/ Sumatif Harian Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas 4 MI Semester 2

Bab 4 Hijrah Nabi Muhammad ke Thaif berjumlah 20 soal pilihan ganda.

Semoga Ananda semuanya dapat belajar dengan mudah untuk mempersiapkan sumatif harian, penilaian harian atau asesmen harian, sumatif tengah semester atau sumatif akhir semester.

Langsung saja yaa, berikut latihan soalnya, selamat berlatih.

Silahkan tap/klik link yang berwarna biru 

👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇

https://forms.gle/Vy4CkqgAktkionuR9

Jumat, 12 Januari 2024

Kisah teladan sahabat Abu Bakar ash Shiddiq

 KISAH TELADAN SAHABAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

Pendahuluan:

Dalam sejarah Islam, terdapat banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan bagi umat Muslim. Salah satu sahabat yang sangat terkenal dan dihormati adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Abu Bakar merupakan sahabat pertama Nabi Muhammad SAW dan juga menjadi khalifah pertama setelah beliau wafat. Dalam buku ini, kita akan menjelajahi kisah teladan Abu Bakar ash-Shiddiq serta sifat-sifat yang membuatnya menjadi contoh yang baik bagi umat Muslim.


I. Kehidupan Awal Abu Bakar ash-Shiddiq:

Abu Bakar ash-Shiddiq dilahirkan di Mekah pada tahun 573 M. Ia berasal dari keluarga yang terhormat dan memiliki sifat-sifat yang luar biasa sejak kecil. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, dermawan, dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Ketika ia dewasa, Abu Bakar menjadi seorang pedagang yang sukses dan terkenal di Mekah. Meskipun hidupnya berlimpah harta, ia tetap rendah hati dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan.

Contoh: 

Sebagai contoh, pada suatu kesempatan, Abu Bakar melihat seorang laki-laki yang sedang berjuang menarik gerobak berisi barang dagangannya yang berat. Abu Bakar dengan sukarela membantu laki-laki tersebut menarik gerobaknya hingga sampai ke tujuan. Tindakan ini menunjukkan kerendahan hati dan sikap tolong-menolong yang dimiliki oleh Abu Bakar ash-Shiddiq.

II. Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq:

Pada usia 35 tahun, Abu Bakar mendengar ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW dan segera memeluk agama Islam. Ia menjadi salah satu pemeluk Islam pertama dan menjadi sahabat yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar sangat tekun dalam beribadah dan taat kepada Allah SWT.

Contoh:

Sebagai contoh, setiap hari Abu Bakar meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia selalu menjalankan shalat lima waktu dengan penuh khusyuk dan memperbanyak ibadah sunnah. Ia juga sering membaca Al-Quran dan menghafal ayat-ayat suci. Kesungguhan dan ketekunan Abu Bakar dalam beribadah menjadi contoh bagi umat Muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

III. Kesetiaan Abu Bakar ash-Shiddiq kepada Nabi Muhammad SAW:

Abu Bakar ash-Shiddiq dikenal sebagai sahabat yang paling setia dan setia kepada Nabi Muhammad SAW. Ia selalu mendukung dan melindungi Nabi dalam setiap situasi, bahkan ketika banyak orang yang tidak percaya dan menentang beliau.

Contoh:

Sebagai contoh, ketika Nabi Muhammad SAW diusir dari Mekah karena menyebarkan agama Islam, Abu Bakar dengan setia mendampingi Nabi dalam perjalanan ke Madinah. Ia rela meninggalkan segala harta dan keluarganya demi mendukung Nabi Muhammad SAW. Kesetiaan Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi contoh bagi umat Muslim untuk selalu mendukung dan melindungi agama dan pemimpin yang adil.


Kesimpulan:

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan bagi umat Muslim. Ia memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti kerendahan hati, kejujuran, ketekunan dalam beribadah, dan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah teladan Abu Bakar ash-Shiddiq mengajarkan kita untuk menjadi Muslim yang baik dan berbakti kepada Allah SWT serta menjalankan ajaran Islam dengan setia.

Rabu, 29 November 2023

Hikmah Waktu dan Jumlah Rakaat Shalat

 السلام عليكم و رحمة الله و بركاته بسم الله و الحمد لله اللهم صل و سلم على سيدنا محمد و على أله و صحبه أجمعين


Shalat merupakan shalat satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Dari waktu 24 jam dalam satu hari satu malam, umat Islam hanya diminta melaksanakan shalat 5 kali, yaitu shalat Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib, dan Isya. Masing-masing shalat tersebut sudah ditentukan waktu dan jumlah rakaatnya. Mengenai hal ini, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Sullam al-Munajah (Surabaya: Al-Haramain, tanpa tahun), halaman 12, menjelaskan bahwa ada hikmah di balik penentuan waktu shalat dan hitungan jumlah rakaat yang ada di dalamnya. Semua itu tidak lepas dari beberapa peristiwa penting yang terjadi pada nabi-nabi terdahulu.

Shalat Subuh 

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat subuh adalah Nabi Adam. Kisah ini bermula ketika Allah menurunkannya dari surga ke bumi. Ketika Nabi Adam berada di bumi, ia sangat takut dan khawatir karena keadaan di bumi sangat gelap dan tidak ada cahaya sama sekali. Tidak lama kemudian, terbitlah fajar yang menghilangkan kekhawatiran dan rasa takut Nabi Adam. Di saat itu pula Nabi Adam melakukan shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur. Rakaat pertama bersyukur kepada Allah karena telah diselamatkan dari gelapnya malam tersebut, sedangkan rakaat kedua sebagai bentuk syukur karena terbitnya fajar yang bisa menerangi bumi dan seisinya

Shalat Dzuhur 

Orang pertama yang melaksanakan shalat dzuhur adalah Nabi Ibrahim. Kisah ini bermula ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail. Singkat cerita, Nabi Ismail diganti dengan seekor domba dari surga yang dibawa oleh malaikat Jibril. Kisah ini terjadi tepat ketika tergelincirnya matahari di waktu dzuhur. Atas kejadian itu, Nabi Ibrahim kemudian menunaikan shalat sebanyak empat rakaat. Rakaat pertama sebagai bentuk syukur kepada Allah karena telah mengganti Ismail dengan domba untuk disembelih, rakaat kedua sebagai syukur atas hilangnya kesedihannya pada anaknya, rakaat ketiga sebagai bentuk permohonan ridha kepada Allah atas kejadian tersebut, dan rakaat yang keempat sebagai syukur atas karunia nikmat yang telah Allah berikan, yaitu berupa domba dari surga


Shalat Ashar 

Orang pertama yang mengerjakan shalat Ashar adalah Nabi Yunus tidak lama setelah Allah keluarkan ia dari dalam perut ikan. Allah mengeluarkannya tepat pada waktu Ashar, saat keluar ia seperti anak burung unggas yang tidak memiliki bulu. Empat rakaat shalat ashar yang dilaksanakan Nabi Yunus sebagai bentuk syukur kepada Allah atas keselamatan dirinya dari empat kegelapan, yaitu: 
(1) kegelapan dalam isi perut ikan; 
(2) kegelapan berada di dalam air; 
(3) kegelapan di malam hari; dan 
(4) kegelapan dalam perut ikan itu sendiri. 

Shalat Maghrib 

Orang pertama yang melaksanakan shalat maghrib adalah Nabi Isa. Kisah ini berawal ketika ia dikejar oleh kaumnya untuk dibunuh ketika waktu terbenamnya matahari. Setelah ia selamat dari kejaran itu, akhirnya Nabi Isa mengerjakan shalat sebanyak tiga rakaat. Rakaat pertama sebagai bentuk kemantapan aqidah (tauhid) bahwa tidak ada tuhan selain Allah, rakaat kedua untuk menghilangkan tuduhan kaumnya yang mengatakan bahwa Nabi Isa merupakan hasil anak zina ibunya (Sayyidah Maryam) dengan orang lain, sedangkan rakaat yang ketiga untuk memantapkan keyakinan bahwa semua kejadian yang menimpanya merupakan ketetapan dari Allah.

Shalat Isya 

Orang pertama yang melaksanakan shalat Isya adalah Nabi Musa. Kisah ini bermula ketika ia tersesat di perjalanan saat akan keluar dari Madyan. Saat itu, Nabi Musa sangat sedih karena empat hal, yaitu: 
(1) sedih karena telah meninggalkan istrinya; 
(2) sedih karena telah berpisah dengan saudaranya, Nabi Harun; 
(3) sedih karena telah meninggalkan putranya; dan 
(4) sedih atas kezaliman Fir’aun.

Ketika Nabi Musa ditimpa oleh berbagai kesedihan tersebut, akhirnya Allah menolong dan menyelamatkan dari 4 kesedihan tersebut. Kemudian ia melakukan shalat sebanyak empat rakaat, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas pertolongan tersebut. Kejadian ini tepat pada waktu isya.

Itulah hikmah yang terkandung di balik ketentuan waktu dan jumlah rakaat dalam shalat fardhu 5 waktu. Wallâhu a‘lam.


Sabtu, 18 November 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 4 BAB 6 SEMESTER GANJIL

MENGHINDARI SIKAP TERCELA MELALUI KISAH TSA’LABAH

Tujuan Pembelajaran

Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat memahami cara menghindari sifat kikir dan kufur nikmat dalam kisah Tsa'labah dengan benar.

Melalui kegiatan diskusi, siswa dapat mengomunikasikan cara menghindari kikir dan kufur nikmat dengan tepat.

A. Kisah Tsa’labah

Kisah Tsa‟labah adalah salah satu sahabat Rasulullah Saw yang ketika miskin rajin beribadah namun dengan lelahnya menjadi orang miskin akhirnya minta Rasulullah Saw agar mendoakannya menjadi orang kaya. Rasulullah Saw mengabulkan permintaannya, akhirnya jadilah Tsa‟labah menjadi kaya raya. Dan apa yang terjadi? 

Tsalabah lupa mengerjakan shalat berjamaah di masjid bersama Rasulullah Saw. Bahkan lupa mengerjakan Shalat Jumat karena kesibukannya mengurus hewan ternak.Selain melupakan janjinya, Tsalabah juga enggan membayar zakat.

Tsalabah termasuk orang yang tidak mentaati Allah Swt. dan Rasulnya. Tsalabah juga termasuk orang yang tamak, sombong, dan kufur nikmat. Setelah hewan ternaknya banyak, waktunya hanya dipergunakan untuk mengurusi hewannya dan memikirkan bagaimana supaya ternaknya terus bertambah dan bertambah.

Audio visual tentang Tsa'labah 🎦

Demikianlah kisah Tsalabah, Allah sangat murka kepada orang yang berakhlak tercela, seperti tergambar dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 75-78

وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ 

فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ

فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ 

Artinya:

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami termasuk orang orang yang saleh (75).

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran (76).

Maka Allah. menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah , karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta (77).

Mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, danbahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib (78).”

B. Mengambil Hikmah Dari Kisah Tsa’labah

Sebagai anak muslim harus menghindari sifat-sifat tercela yang dimiliki oleh Tsalabah, diantaranya dengan cara: menjaga mulut, telinga, mata, tangan dan hati kita agar selalu mengingat kebesaran Allah Swt. Menyadari bahwa akhlak tercela akan menyiksa diri kita sendiri. Menyadari bahwa ingkar janji akan mendatangkan laknat Allah Swt.

Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Tsa'labah adalah:

1. Selalu beribadah baik ketika sempit maupun lapang.
2. Selalu syukur nikmat terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt.
3. Menghindari sifat takabur dan kikir.
4. Beribadah hanya karena Allah Swt. dan
5. Selalu menepati janji serta taat kepada Allah Swt.

Rangkuman
1. Akhlak tercela dapat membahayakan dan merugikan diri sendiri dan orang lain.
2. Sifat-sifat tercela, yang dimiliki Tsa‟labah, antara lain tidak menepati janji, kikir, sombong, kufur nikmat, dan dzalim
3. Kufur nikmat berarti mengingkari pemberian Allah Swt. dengan cara menyalahgunakannya, melalaikannya, atau memakainya untuk jalan yang dibenci (tidak diridhai) oleh Allah Swt.
4. Ibadah yang dilanggar Tsa‟labah adalah zakat dan salat.
5. Akibat berperilaku tercela
  • a. dimurkai Allah Swt.
  • b. tidak disenangi sesama
  • c. kesengsaraan di dunia dan azab di akhirat
6. Hikmah yang dapat diambil dari kisah Tsa‟labah
  • a. Selalu beribadah, baik ketika sempit maupun lapang
  • b. Selalu syukur nikmat terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt.
  • c. Menghindari sifat takabur dan kikir
  • d. Beribadah hanya karena Allah

Soal latihan 
  1. Apakah permintaan Tsa'labah kepada Nabi Muhammad Saw.?
  2. Sebutkan 4 perilaku tercela Tsa'labah yang harus kalian hindari?
  3. Menurut pendapatmu bagaimana cara menghindari perilaku tercela?
  4. Apa akibatnya jika kalian berperilaku tercela?
  5. Sebutkan 3 hikmah dari kisah Tsa'labah!

Sabtu, 11 November 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 4 BAB 5

INDAHNYA BERPERILAKU TERPUJI

Kompetensi Dasar 

3.5 Memahami makna sikap tabah dan sabar menghadapi cobaan melalui kisah Bilal bin Rabah

4.5 Mengomunikasikan manfaat sikap tabah dan sabar menghadapi cobaan melalui kisah Bilal bin Rabah

A. Kisah Bilal Bin Rabbah

(Kisah singkat Bilal Bin Rabbah)

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Saw. mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu‟minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, „Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus Sauda‟ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Ketika Abu Bakar memberitahu Rasulullah Saw. bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya. Rasulullah Saw. berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.” Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Saw. mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu „anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan „Amir bin Fihr.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Saw. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Saw. ke mana pun beliau pergi.

Ayo berdiskusi

1. Mengapa Bilal bin Rabbah disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy?

2. Siksaan apa yang diberikan kafir Quraisy kepada Bilal bin Rabbah?

3. Apakah dengan siksaan yang berat Bilal menjadi menyerah dan goyah dalam menyembah Allah Swt? mengapa?

4. Bagaimana Bilal menghadapi cobaan dalam mempertahankan keimanannya kepada Allah Swt.?

5. Apa yang bisa kamu teladani dari Bilal bin Rabbah ?

B. Sabar dan Tabah Menghadapi Cobaan dari Allah Swt

Tahukah kamu apa itu sabar,sudahkah kamu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana caranya? yuk kita cari tahu!

Sabar adalah rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas serta berserah diri kepada Allah Swt. Sabar secara lebih luas juga diartikan menahan diri agar tidak mudah marah, benci, dendam, tidak mudah putus asa, melatih diri dalam ketaatan dan membentengi diri agar tidak melakukan perbuatan keji dan maksiat. 

Dalam Islam, ada tiga bentuk sabar yakni :

  1. Sabar dalam ketaatan menjalankan perintah Allah Swt,
  2. Sabar dalam menghadapi musibah atau terhadap apa yang telah ditakdirkan
  3. Sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat atau apa yang dilarang Allah Swt
Orang yang beriman hendaknya bersabar atas segala ujian, cobaan dan musibah yang datang kepadanya. Percaya bahwa Allah Swt. tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas
kemampuannya. Ketika mendapatkan cobaan, maka bersabar dan ikhlas dengan apa yang terjadi. Karena sesungguhnya Allah Swt itu bersama dengan orang-orang sabar.

Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 153
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar“. (QS. Al-Baqarah: 153)

Hikmah atau keuntungan sabar diantaranya:
  1. Sabar sebagai penolong, pembawa keberuntungan.
  2. Memberikan ketentraman jiwa.
  3. Mendapat kesuksesan bagi yang berusaha, bekerja dan belajar. 
agar kalian selalu tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan
  1. Terima cobaan dari Allah Swt. dengan ikhlas. Allah Swt. memberi cobaan pada hambanya tidak akan melebihi dari kemampuan hambanya dalam menerima cobaan tersebut.
  2. Ingat janji Allah Swt. sesungguhnya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan.
  3. Mengambil hikmah dari cobaan yang menimpa. Sepahit apa pun cobaan yang kita terima, pasti ada hikmah dibaliknya.
  4. Berdo‟a dan bertawakkal. Kita harus yakin bahwa hanya Allah-lah satu- satunya yang dapat memberi pertolongan dan jalan keluar semua cobaan yang kita hadapi.
Ayo berdiskusi
1. Tulislah contoh sabar dalam menjalankan perintah dari Allah Swt!
2. Mengapa kita harus sabar dan tabah dalam menerima ujian atau musibah?
3. Apa yang kamu lakukan jika ada temanmu yang suka mengeluh dan tidak sabar dalam menghadapi cobaan?
4. Bagaimana menurut pendapatmu agar senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan?

Senin, 30 Oktober 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 6 BAB IV

 AKHLAK-KU

Materi Pokok : Sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Pembelajaran

1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat menerapkan sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dengan benar.

2. Melalui kegiatan observasi, siswa dapat mengomunikasikan pengalaman dalam menerapkan sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat. 


A. Pemaaf

Pengertian

Pemaaf berarti orang yang rela memberi maaf kepada orang lain, sikap pemaaf berarti sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa sedikitpun ada rasa benci dan keinginan untuk membalasnya.

Dalil : surah al-A’raf (7): 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya: Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. al-A’raf [7]: 199) 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."

Contoh pemaaf : Di dalam bergaul setiap hari, disengaja ataupun tidak disengaja pasti kita pernah berbuat salah bahkan mungkin hingga menyakiti sesama. Maka sebagai orang yang beriman dan memiliki etika, moral dam akhlak kita harus mampu menjadi orang pemaaf kepada sesama, sebab sifat pemaaf ini juga merupakan salah satu perintah Allah Swt. 

Hikmah : 

Di antara hikmah yang dapat dirasakan dari sikap pemaaf di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Seorang pemaaf akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari orang yang dimaafkan. 

2. Orang yang pemaaf akan memperkuat tali silaturrahim dengan orang lain, termasuk orang yang dimaafkan.

3. Sikap pemaaf menunjukkan seseorang tersebut bertakwa. Artinya, orang yang tidak memiliki sikap pemaaf berarti dia tidak disebut bertakwa dalam arti yang sebenarnya.

B. Tanggung Jawab 

Pengertian : Tanggung jawab adalah kesadaran diri manusia terhadap tingkah laku dan perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sesuatu sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab sangat erat kaitannya dengan kewajiban.

Tanggung jawab menjadi ciri manusia yang beradab. Manusia harus bertanggung jawab karena menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatannya. 

Cara membiasakan Tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari :  

a. selalu ingat kepada Allah bahwa segala perbuatan yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggung jawaban.

b. menyadari betapa beratnya amanah yang diberikan kepada manusia.

c. menyadari akibat buruk yang timbul dari sikap tidak bertanggung jawab.

d. berani mengakui kekurangan sendiri.

e. siap menerima risiko apapun dari kesalahan yang dilakukan.

Contoh : Sebagai seorang pelajar kewajiban kita adalah belajar. Dengan belajar kita telah bertanggung jawab terhadap kewajiban kita, jadi makna dari tanggung jawab sering dikaitkan dengan kewajiban. Maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajiban kita.

Dalil

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ

Artinya: Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, (QS. AlMudatsir. [74]: 38) 

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya, “Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya." (HR Bukhari).

Hikmah

1. Dipercaya orang lain

2. Menjadi manusia yang berguna

3. Memperoleh pahala dari Allah SWT

C. Adil

Pengertian : Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. 

Menurut istilah adil adalah meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya. 

Adil berarti seimbang atau tidak memihak dan memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak pada siapapun kecuali kepada kebenaran.

Contoh Adil : Tahukah kalian ? Banyak sekali contoh adil yang terjadi di sekitar kita. Anak yang membuang sampah di sembarang tempat, kemudian ditegur oleh bapak atau ibu guru agar diambil dan dibuang di tempat sampah, adalah bagian dari contoh adil. Karena adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. 

Dalil

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah [5]: 8)

Hikmah : Beberapa manfaat/hikmah bersikap adil diantaranya:

1. mendatangkan ridha Allah Swt.

2. memperoleh keberkahan hidup.

3. mendapatkan kebahagiaan batin.

4. disenangi banyak orang.

5. mendapatkan kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

6. terwujudnya masyarakat yang tentram, aman dan damai. 

D. Bijaksana

Pengertian : Bijaksana artinya selalu menggunakan akal budinya dengan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, bisa juga berarti cermat dan teliti serta berhati-hati.

Sikap bijaksana adalah sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa serta persoalan yang ada sehingga memancarlah keadilan, ketawadhuan dan kebeningan hati serta menyelesaikannya berdasarkan kebenaran dan tidak hanya mengikuti keinginan hawa nafsu saja.

Contoh/Teladan Bijaksana :

Ketika penduduk Makkah berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah, datanglah Rasulullah Saw. dan memberikan ide cemerlang. Nabi berkata: “Bagaimana kalau siapa yang besok pagi lebih dahulu memasuki masjid ini maka dialah yang berhak meletakan Hajar Aswad itu ke tempat semula”. Para pemuka Quraisy menyepakati usulan Nabi tersebut, dan ternyata yang datang pertama kali ke masjid adalah Nabi Muhammad Saw.. Berarti Nabi Muhammad Saw. yang berhak memindahkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula.

Untuk menghindari terjadi permusuhan diantara mereka, Nabi Muhammad Saw. tidak mau memindahkan sendiri. Sebaliknya Nabi Muhammad Saw. mengajak kepada semua pemuka kaum Quraisy itu untuk terlibat. Sehingga Nabi membentangkan kain sorbannya yang berbentuk empat persegi tersebut, kemudian diletakan Hajar Aswad diatas serbannya dan disuruh oleh Nabi agar empat orang pemuka Quraisy masing-masing memegang sudut sorban dan mengangkat secara bersama-sama ke tempat semula dan setelah Hajar Aswad berada di dekat tempatnya, barulah Nabi yang mengangkat dan meletakan Hajar Aswad di tempat semula.

Dalil

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl [16]:125)

Hikmah Bijaksana :

1. dapat terlaksana suatu aturan, karena orang yang bijaksana selalu berbuat sesuai aturan, sehingga terwujud keselarasan hidup bagi masyarakat.

2. dapat mewujudkan sikap disiplin.

3. dapat menegakan sesuatu yang hak (benar) karena perilaku bijaksana akan menimbulkan kebaikan dan kebaikan akan menghasilkan kebenaran.

4. dapat melaksanakan kewajiban, karena orang yang bijaksana selalu mengutamakan pelaksanaan kewajiban.

5. dapat mewujudkan sikap adil, karena orang yang bijaksana secara otomatis bersikap adil. 

RANGKUMAN 

1. Sebagai orang yang beriman dan memiliki etika, moral dam akhlak kita harus mampu menjadi orang pemaaf kepada sesama, sebab sifat pemaaf ini juga merupakan salah satu perintah Allah Swt..

2. Tanggung jawab adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu dengan sengaja atau tidak sengaja dan menanggung akibatnya.

3. Hukum tanggung jawab bagi setiap manusia adalah wajib.

4. Dengan sikap tanggung jawab maka setiap manusia akan mampu mengontrol diri sebelum melakukan sesuatu, sebab setiap yang dilakukan pasti akan ada risiko yang harus dihadapi.

5. Adil adalah menempatkan semua urusan pada tempat yang seharusnya.

6. Orang yang adil adalah orang yang berbuat sesuai aturan hukum; baik hukum agama, hukum positif (hukum negara) maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak pada siapapun kecuali kepada kebenaran.

7. Cara menjadi pribadi yang bijaksana:

a. Tidak emosional atau mudah marah

b. Tidak egois yang berarti hanya menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri

c. Memiliki kasih sayang terhadap sesama

d. Selalu berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik

Jumat, 27 Oktober 2023

SKI KELAS 6 SEMESTER GANJIL BAB V SUNAN DRAJAT (W. 1522 M)

SUNAN DRAJAT (W. 1522 M)  

Tujuan Pembelajaran

  1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat menganalisis biografi Sunan Maulana Malik Ibrahim dan perannya dalam mengembangkan Islam di Indonesia dengan benar.
  2. Melalui kegiatan diskusi, siswa dapat mengorganisasi kembali peran Sunan Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan Islam di Indonesia dengan tepat.

A. Biografi
Sunan Drajat atau Raden Qasim adalah putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, lahir tahun 1470 M. ia saudara kandung Raden Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang. Selain bernama Raden Qasim, dikenal juga dengan nama Maulana Hasyim, Raden Syarifudin, pangeran Kadrajat, dan Sunan Mayang Madu.
Ibunya berdarah Jawa yang membuat pengetahuannya tentang bahasa, sastra dan budaya lebih dominan bercorak Jawa, seperti Sunan Bonang kakaknya, ia pun sangat pandai menggubah berbagai jenis tembang macapat pungkur berisi pesan-pesan Islam. 

Menginjak usia sekolah, ia belajar langsung kepada Sunan Ampel, ayahnya. Kemudian Sunan Ampel mengirimnya ke Cirebon memperdalam ilmu agama kepada Sunan Gunung Jati. Setelah beberapa tahun berdakwah di Kadrajat Sunan Drajat kembali ke Ampeldenta, namun ayahanda nya memintanya menyebarkan Islam di pesisir barat Gresik.

Lewat seni dan budaya Sunan Drajat menyampaikan ajaran Islam sehingga masyarakat menerima Islam dengan baik.
Di usia tua, Sunan Drajat tinggal di Dalem Wulur, sebuah tempat tinggi arah selatan dari desa Drajat. Di sinilah ia menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwah. Terdapat sejumlah peninggalan yang terpelihara sampai sekarang, diantaranya singko mengkok yaitu seperangkat alat musik gamelan dan beberapa benda lainnya. Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 M, dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

B. Peran Sunan Drajat dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.
Dalam mengembangkan Islam di daerah Jawa, Sunan Drajat punya peran penting dalam, di antaranya:
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Dalam dakwahnya, Sunan Drajat dikenal dengan sosok yang berjiwa sosial, sangat peduli dengan kehidupan fakir miskin serta lebih mengutamakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 
2. Menanamkan pendidikan akhlak
Dalam menyampaikan dakwah, masyarakat mengenal pepali pitu (tujuh dasar ajaran) yang mencakup tujuh falsafah hidup yang dijadikan pijakan dalam kehidupan yang disampaikan sunan Drajat 

Isi pepali pitu
  1. Memangun resep tyasing sasama ( kita selalu membuat senang hati orang lain)
  2. Jroning Suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada).
  3. Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah ( dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan)
  4. Meper hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu indrawi)
  5. Heneng-Hening-Henung (Dalam diam akan tercapai keheningan, dan di dalam hening, akan mencapai jalan kebebasan mulia)
  6. Mulyaguna Panca Waktu (Pencapaian kemulian lahir batin dicapai dengan menjalani salat lima waktu)
  7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan. (Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.)
C. Sikap Positif dalam pribadi Sunan Drajat 

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Drajat patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan, antara lain : 
1. Merakyat dan peduli fakir miskin
2. Seniman yang mendidik
3. Berdakwah dengan arif dan bijaksana.


RANGKUMAN 

  1. Sunan Drajat atau Raden Qasim, putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, lahir tahun 1470 M. ia bersaudara kandung dengan Raden Mahdum Ibrahim.
  2. Raden Qasim belajar ilmu agama kepada ayahnya, Sunan Ampel, dan mendalaminya kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon.
  3. Dalam mengembangkan Islam di Indonesia, Sunan Drajat berperan penting dalam hal-hal sbb: 
          Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
          Menanamkan pendidikan ahlak lewat pepali pitu

      4. Teladan dari sikap Drajat yang diteladani antara lain:
       Merakyat dan peduli fakir miskin
       Seniman mendidik yang menjadikan seni untuk dakwah
       Menyebarkan Islam dengan arif dan bijaksana.

Senin, 23 Oktober 2023

Aqidah Akhlak kls 3 AKHLAK TERPUJI

Materi Pokok : sikap taat dan patuh terhadap Allah Swt., rasul-Nya, kedua orangtua, dan guru.  


Ayo belajar 

Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh. Secara istilah taat adalah tunduk dan patuh, baik terhadap perintah Allah SWT., Rasul-Nya, Orangtua, guru maupun ulil amri (pemimpin).

A. Taat kepada Allah Swt.

Allah Swt. memenuhi segala yang kita minta. Bahkan yang tidak kita minta pun Allah Swt. telah memenuhinya. Misalnya, kita tidak pernah berdoa kepada Allah Swt. agar ketika kita dilahirkan ke dunia nanti dilengkapi dengan pancaindra yang lengkap, tetapi Allah Swt. langsung memenuhinya. Masih banyak lagi rezeki dari Allah Swt. yang tidak mungkin kita sebut satu persatu.

Bagaimanakah cara taat kepada Allah Swt.? Berikut beberapa perbuatan yang bisa kita lakukan sebagai ungkapan ketaatan kita kepada Allah Swt. dan rasa syukur atas karunia rezeki yang tiada terhingga: 

  1. melaksanakan shalat di awal waktu, dan lebih utama jika dilaksanakan secara berjamaah 
  2. menjalankan puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa sunnah
  3. Berinfaq, bersedekah, dan menunaikan zakat 
  4. Selalu mengingat Allah Swt. dengan berzikir setiap saat, tidak hanya waktu selesai shalat 
  5. mempergunakan rezeki yang diterima di jalan kebaikan yang diridhai oleh Allah Swt. 
  6. berperilaku yang islami sesuai tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya. 
B. Taat kepada Rasul
1. Arti Taat kepada Rasul 
Taat kepada rasul berarti mengikuti semua ajaran yang dibawanya. Dalam hal ini adalah ajaran agama Islam. Semua rasul yang diutus Allah Swt. membawa risalah agama Islam. Setelah meyakini ajarannya, kita wajib mengikuti dan mengamalkannya. Tidak akan ada gunanya jika kita hanya meyakini, tetapi enggan untuk mengamalkanya. Misalnya, tidak mengerjakan shalat, enggan berzakat, serta tidak mau bersedekah. Sesungguhnya semua yang diajarkan para rasul merupakan perintah dari Allah Swt. Kalau tidak menaati apa yang diperintahkan rasul, berarti kita tidak menaati Allah Swt.. 
2. Cara Menaati Rasul 
Cara- cara menaati rasul, antara lain: 
  • mengetahui riwayat kehidupan para rasul, terutama Rasulullah Saw. dan ajaran yang dibawanya;
  • membenarkan berita yang disampaikan para rasul;
  • mengamalkan syariat yang dibawanya, dalam hal ini syariat Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul terakhir; 
  • mencintai dan membela para rasul, terutama Rasulullah Saw. 
  • meneladani kehidupan para rasul; 
  • menghidupkan Sunnah Rasulullah Saw. 
C. Taat kepada Orangtua 
Orangtua berjasa sangat besar terhadap hidup anak-anaknya. Andaikan harta yang dimiliki seorang anak digunakan untuk membalas jasa orangtuanya, belum tentu bisa sebanding dengan jasa dan pengorbanan orangtuanya.
Orangtua melahirkan anaknya ke dunia, merawat, mengasuh, membesarkan dan mendidiknya. Begitu besar jasa orangtua kepada anak-anaknya. Karena itu sudah sepatutnya anak berterima kasih kepada orangtuanya dengan cara berbuat baik, menghormati dan menaatinya. 

Allah Swt. berfirman: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…” (QS. Al-Isra[17]:23) Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk selalu patuh dan taat kepada kedua orangtuanya. Sebagai balas budi kita terhadap mereka maka kita harus patuh dan taat kepada mereka berdua.  

Orangtua adalah manusia yang sangat berjasa kepada kita. Beliau berdua rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. 
Berikut ini beberapa alasan mengapa kita harus patuh dan hormat kepada orangtua kita: 
 1. orangtua yang melahirkan kita 
 2. beliau berdua mengasuh anaknya sejak bayi hingga dewasa
 3. doa orangtua kita selalu tercurahkan untuk keberhasilan  
     dan kesuksesan kita 
 4. orangtua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan 
      keluarganya 
 5. Perintah Allah Swt. dan Rasulullah Saw. untuk selalu 
     berbakti kepada orangtua. 

berikut ini beberapa cara menghormati orangtua antara lain: 
  • menuruti perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama 
  • berbicara yang sopan kepada beliau berdua 
  • selalu menampakkan wajah ceria (tersenyum) di hadapan beliau 
  • rajin berdoa untuk keselamatan orangtua baik di dunia maupun di akhirat 
  • tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh orangtua
  • merawat beliau ketika sakit. 
D. Hormat dan Patuh kepada Guru

Bagaimana kita hormat dan patuh terhadap guru kita? Beberapa ciri dari sikap patuh dan taat kepada guru adalah sebagai berikut: 
 1. Sopan santun
 2. Menghargai 
 3. Taat  

Sikap hormat dan patuh tersebut dapat diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. 
Berikut adalah contoh perbuatan yang mencerminkan hormat dan patuh pada guru: 
  1. memperhatikan pengajaran yang diberikan oleh guru
  2. mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru
  3. melaksanakan segala nasihat guru 
  4. mengucapkan salam ketika berjumpa dengan guru
  5. mencium tangan guru ketika bersalaman 
  6. tidak melupakan kebaikan guru 
  7. berdiri menyambut guru 
  8. bertanya sesuatu yang belum dipahami dengan sopan
  9. tidak mendahului dan memutuskan pembicaraan. 

RANGKUMAN 
1. Allah Swt. adalah Tuhan yang wajib disembah oleh seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Alam semesta ini diciptakan oleh Allah Swt. untuk memenuhi kebutuhan manusia.
2. Rasul adalah utusan Allah Swt. Rasul yang wajib kita percayai berjumlah 25 orang rasul, dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad Saw.
3. Kita menaati rasul dengan cara melaksanakan ajaran yang beliau bawa dari Allah Swt.
4. Melalui belajar al-Qur’an dan Hadis, berarti kita menaati Rasulullah Saw..
5. Orangtua adalah manusia yang sangat berjasa kepada kita. Beliau berdua rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. Ridha Allah Swt. bergantung kepada ridha orangtua. Demikian pula kemurkaan Allah Swt. juga bergantung kemurkaan orangtua.
6. Orang yang juga sangat berjasa kepada kita adalah guru. Guru telah mendidik kita dan mengajari kita tentang banyak hal. Sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan pintar. Itulah salah satu alasan kita harus menghormati guru.

Jumat, 13 Oktober 2023

Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas 6 Pelajaran 4 Sunan Bonang

PETA KONSEP 

Pelajaran 4 Sunan Bonang mencakup tiga pembahasan, yaitu:

A. Biografi

Sunan Bonang, nama aslinya Mahdum Ibrahim, putra keempat Sunan Ampel dari pernikahannya dengan Nyi Ageng Manila, putri Arya Teja, Bupati Tuban. Tokoh ini diperkirakan lahir pada tahun 1465. Silsilah keluarganya bersambung dengan Rasullah Saw lewat ayahnya, Sunan Ampel, sampai ke Saydina Husein bin Ali dan Fatimah putri Nabi Muhammad Saw. 

Raden Mahdum Ibrahim belajar ilmu agama lansung kepada ayahnya, Sunan Ampel. Nyantri di Pesantren Sunan Ampel bersama Raden Paku, Raden Patah dan Raden Kusen . Ia juga mengeyam pendidikan agama di Aceh, berguru kepada Syaikh Maulana Ishak sewaktu singgah saat akan melakukan perjalanan haji ke tanah suci Makkah. Kecendrungan terhadap seni dan sastra membuatnya banyak belajar kesenian dan budaya Jawa, tentang kesusatraan Jawa, tembang-tembang jenis majapat yang populer masa itu kepada ibunya, seorang putri Bupati Tuban yang banyak memahami sastra Jawa. 

Mengawali dakwahnya, Raden Mahdum Ibrahim memasuki pedalaman Kediri, Jawa Timur, dengan mendirikan langgar ( mushalla) di tepi barat sungai Brantas, desa Singkal, Kabupaten Nganjuk. Gaya dakwah yang keras, seperti merusak arca yang dipuja penduduk menimbulkan konflik dan banyak tokoh yang memusuhi Sunan Bonang, terutama tokoh-tokoh ajaran Bhairawa-Tantra, Ki buto Lucoyadan Nyai Plencing. Dakwah Sunan Bonang belum mencapai keberhasilan, masyarakat Kediri masih belum menerima Islam hingga datang masanya Sunan Prapen tahun 1551 M. Kegagalan dakwah Sunan Bonang di kediri, mengantarkannya pindah ke Demak atas panggilan Raja Demak, Raden Patah, yang mengangkatnya sebagai imam Masjid Demak. 

Namun tidak lama kemudian ia melepaskan jabatan sebagai imam , kemudian pindah ke Lasem dan mendirikan sebuah zawiyah, tempat khusus untuk beribadah, dan digunakan juga oleh para pengamal tasawuf sebagai tempat khalwat. Kemudian Pada usia 30 tahun, Sunan Bonang dijadikan Wali Negara Tuban yang mengurusi berbagai hal yang menyangkut agama Islam.

B. Peran Sunan Bonang dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.

Dalam melakukan dakwah Islam di daerah Jawa, Sunan Bonang punya peran penting dalam pengembangan syiar Islam, yaitu:

1. Mengembangkan dakwah Islam lewat seni dan budaya

Keahlian dan kemampuan Sunan Bonang memahami sastra jawa dan tampil sebagai dalang, turut berperan melakukan penyempurnaan dalam bertunjukan sbb:

a). meyempurnakan susunan gamelan

b). menambahkan lagu-lagu,

c). menambahkan ricikan, seperti ricikan kuda, gajah, harimau, garuda, kreta perang, dan rampongan)

d). menggubah tembang-tembang Jawa dan membuat berbagi jenis gending.

e). Penemu alat musik bonang

2. Memasukkan nilai-nilai keislaman pada tradisi masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa mengenal ritual pancamakara dalam ajaran tantrayana, yaitu sebuah upacara yang dilakukan dengan duduk mengelilingi makanan. Di tengah-tengah duduk seorang Cakreswara (imam) sebagai pemimpinya membacakan mantra-mantra.

Melihat tradisi yang dilakukan masyarakat saat itu, Sunan Bonang mengisi tradisi ini dengan upacara kenduri atau selamatan dengan doa-doa Islam. Sebutan Anyakrawati (pemimpin lingkaran cakra) diberikan kepada Sunan Bonang karena ikut meneruskan tradisi dan mengubah isinya bernilai ajaran Islam. 

3. Menyebarkan dakwah melalui karya Sastra Suluk Wujil

Sunan Bonang juga menulis tentang pengetahuan taswuf yang lebih mendalam yaitu karyanya berjudul Suluk Wujil, yang ditulis dalam sastra Jawa, berbentuk tembang. Karya ini masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. 

C. Sikap Positif dalam Pribadi Sunan Bonang

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Bonang patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan.

1. Penyebar Islam yang gigih dan ulet

2. Seniman kreatif dan inovatif dalam mengembangkan media dakwah

3. Toleran dalam dakwah


RANGKUMAN 

 Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang adalah putra keempat Sunan Ampel. Silsilah Keluarganya bersambung dengan Rasullah Saw. dari jalur Saidina Husen bin Ali dan Fatimah putri Rasulullah Saw.

 Belajar ilmu agama di Pesantren Sunan Ampel dan memperdalam ilmunya kepada pamannya Syekh Maulana Malik Ibrahim, di Aceh.

 Berperan mengembangkan Islam di Indonesia, melalui;

- Seni pertunjukan wayang, gamelan dan menciptakan alat musik bonang

- Islamisasi tradisi masyarakat dengan memberikan nilai-nilai keislaman, seperti ritual pancamakara menjadi kenduri atau slametan

- Karya sastra suluk wujil berisi tembang-tembang Jawa yang berisi pesan agama

 Sikap positif dalam pribadi Sunan Bonang tercermin dalam pribadi sbb:

-Sosok seniman kreatif dan inovatif dalam mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan sastra

-Gigih dan ulet dalam menjalankan dakwah Islam

-Toleran dan bijaksana dalam mengembangkan islam di Indonesia


Selasa, 10 Oktober 2023

RASULULLAH SAW MENJAGA PERDAMAIAN DALAM PERISTIWA FATHU MAKKAH

Materi pelajaran SKI kelas 5 BAB IV

RASULULLAH SAW MENJAGA PERDAMAIAN DALAM PERISTIWA FATHU MAKKAH 

Setelah Rasulullah Saw.dan para sahabat nya yang berjumlah sekitar 10.000orang berhasil memasuki kota Makkah dengan aman, maka Rasulullah Saw.memimpin pembenahan kota Makkah. Dalam melakukan pembenahan diKota Makkah, Rasulullah Saw. bersikap santun. Hal ini ditunjukkan oleh: 

Pertama : Rasulullah Saw Memaafkan Penduduk Makkah, Sesampainya dikotaMakkah, Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat mendirikan tenda lengkung, berbentuk kubah, tidak jauh dari makam Abu Talib dan sayyidah Khadijah. Kemudian Rasulullah Saw. masuk kedalam kemah lengkung tersebut dan beristirahat seraya mengungkapkan rasa syukur. Rasulullah Saw. bersyukur kembalike Makkah dengan terhormat. Beliau teringat kota Makkah dulu penduduk nya telah  mengganggu dan mengusirnya dari keluarga dan kampung halamannya. Rasulullah Saw. melepaskan pandangan nya kelembah wadi dan gunung-gunung yang ada di sekelilingnya. Gunung-gunung, tempat Rasulullah berkhalwat untuk menenangkan diri atas perlakuan kasar kafir Quraisy. Di gua Hira daerah pegunungan itu pula, beliau menerima Wahyu yang pertama.

Kemudian Rasulullah Saw. bertanya kepada penduduk Makkah: "Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kalian, apa yang akan aku perbuat terhadap kalian sekarang?" 

Kaum Quraiys pun menjawab: “Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah." 

Rasulullah Saw. kemudian bersabda : "Pergilah kamu sekalian, Kalian sekarang sudah bebas!” 

Rasulullah Saw. kemudian membaca surat Yusuf ayat 92

قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

Artinya: “Dia (Yusuf)berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampunikamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang "

Dengan sabda Rasulullah Saw tersebut, maka seluruh penduduk Makkah mendapatkan pengampunan umum (amnesti). Rasulullah Saw. bersikap santun dengan memaafkan kesalahan penduduk Makkah dimasa lalu.

Rasulullah menunjukkan kepada seluruh dunia sikap memaafkan setelah memperoleh kemenangan. Rasulullah Saw. benar-benar teguh pada prinsip dan menepati janjinya yakni akan membuat kota Makkah aman. Sikap ini sebelumnya tidak pernah dimiliki dalam sejarah penguasa yang memperoleh sebuah kemenangan. 

kaum muslimin tidak mengikuti langkah Rasulullah Saw. dengan penuh lapang dada memafkan penduduk Makkah, menerimanya sebagai saudara bagi yang masuk Islam, dan melupakan kesalahan-kesalahan masa lalu. Sikap ini sangat luhur dan patut dicontoh oleh sekalian bangsa, manusia yang mempunyai akal sehat dan perasaan perikemanusiaan yang peka.

Pemaaf adalah bukti keimanan kepada Allah. Karena dengan pemaaf berarti meniru sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya yang sangat bijaksana, mentaati perintah-Nya dan menjadikan Rasul sebagai teladan. Rasululah Saw. tidak pernah mengajarkan balas dendam, sebaliknya menekankan sikap lapang dada dan pemaaf.

Kedua : Rasulullah Membersihkan Berhala di Ka’bah

Rasulullah Saw. kemudian memasuki Ka'bah. Beliau menyaksikan dinding- dinding Ka'bah sudah penuh lukisan-lukisan malaikat dan para nabi. Di antaranya adalah lukisan Nabi Ibrahim a . s . yang memegang panah untuk mengadu nasib (azlam). Ada juga sebuah patung burung dari kayu. Kemudian beliau menghancurkan patung tersebut.

Ketika melihat gambar Nabi Ibrahim, Rasulullah Saw. tertegun sejenak lalu bersabda: “mudah-mudahan Allah Swt. membinasakan orang-orang yang membuat lukisan ini!

Orang tua kita Nabi Ibrahim a.s. digambarkan mengundi nasib. Apa hubungannya Nabi Ibrahim dengan azlam'? Ibrahim bukan orang Yahudi, juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

Sedang malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita cantik, gambar-gambar itu oleh Rasulullah Saw disangkal sama sekali, sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan perempuan.

Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu dihancurkan. Patung-patung berhala di sekitar K’abah yang berjumlah 360 buah dihancurkan. Dengan tongkat di tangan, Rasulullah Saw. menunjuk kepada berhala-berhala tersebut seraya membaca firman Allah SWT surat al-Isra’ ayat 81:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Artinya: "Dan katakanlah : yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap." (Qur'an, 17: 81)

Rasulullah Saw. berhasil membersihkan Ka’bah dari berhala. Berhala-berhala tersebut tidak bisa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong kaum kafir Makkah. Berhala tidak dapat memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya. Karena itu, berhala tidak layak disembah. Siapa yang menyembah berhala berarti telah berbuat syirik dan tersesat. 

Kemudian, Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat Bilal mengumandangkan azan dari atas Ka'bah. Sebagian penduduk Makkah kaget, karena sebelumnya tidak mengetahui sahabat Bilal terbiasa mengumandangkan azan. Sebagian mereka berkata: "Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?” 

Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat, berikut ini: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Tetapi orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah orang yang paling takwa (menjaga diri dari kejahatan). Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengerti." (Qur'an, 49: 13)

Ketiga : Rasulullah Saw. Menjaga Kehormatan Penduduk Makkah

Peristiwa kemenangan atas kota Makkah tersebar luas ke seluruh dunia Arab. Para saudagar yang melewati Makkah mengetahui dengan mata kepala mereka bahwa kaum muslimin tidak melakukan pertumpahan darah. Kaum muslimin yang selama ini dicaci maki, diejek, disiksa, diancam mau dibunuh, bahkan berulangkali diperangi oleh kaum kafir Makkah tidak membalas dendam. Padahal, kekuatan kaum muslimin sudah berhasil masuk ke kota Makkah. Tetapi mereka ta’at sepenuhnya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah dan Rasulullah Saw. mengajarkan kedamaian, melarang dendam kesumat, memaafkan kesalahan antar sesama manusia, melindungi kaum yang mau menyerah, menghormati hak-hak manusia, menjaga akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari hal yang melampaui batas. Rasulullah Saw. benar-benar menjaga kehormatan penduduk Makkah.

Penduduk yang tertaklukkan diperlakukan dengan santun sehingga menunjukkan kemuliaan ajaran Islam. Masa peperangan sudah berakhir. Kaum muslimin diperintahkan melakukan dakwah di Makkah dengan damai. Melanjutkan dakwah Islamiah kepada penduduk Makkah yang masih kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Kaum muslimin membangun peradaban baru di Makkah dengan menekankan ukhuwah Islamiah, kedamaian, keadilan, musyawarah, saling menyayangi dan menolong, serta melindungi sesama. Kebiasaan-kebiasaan saling membunuh dan berperang mereka tingalkan. Makkah memulai hidup baru di bawah panji-panji Islam dan sinaran hidayah Allah SWT.

Setelah lima belas hari Makkah, Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Pada mulanya kaum Ansar khawatir Rasulullah Saw. akan terus tinggal di Makkah, namun Rasulullah Saw mengetahui kekhawatiran itu dan bersabda: "Berlindunglah kita kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kamu." Rasulullah Saw. setia dengan baiat Aqabah dan kembali ke Madinah dan tinggal di Madinah sampai akhir hayat.

RANGKUMAN 

  1. Peristiwa fathu Makkah memberikan keteladanan Rasulullah Saw. dalam menjaga perdamaian. Rasulullah Saw bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Rasulullah Saw. menunjukkan kepada seluruh dunia sikap memaafkan setelah memperoleh kemenangan. Rasulullah Saw. benar-benar teguh pada prinsip dan menepati janjinya yakni akan membuat kota Makkah aman. Sikap ini sebelumnya tidak pernah dimiliki dalam sejarah penguasa yang memperoleh sebuah kemenangan.
  2. Saat fathu makkah, Rasulullah Saw memasuki Ka'bah. Beliau menyaksikan dinding-dinding Ka'bah sudah penuh lukisan-lukisan malaikat dan para nabi. Di sekitar Ka’bah juga banyak berjejer berhala. Rasulullah Saw menghancurkan berhala-berhala tersebut. 
  3. Meskipun memperoleh kemenangan, Rasulullah mengajarkan kedamaian, melarang dendam kesumat, memaafkan kesalahan antarsesama manusia, melindungi kaum yang mau menyerah, menghormati hak-hak manusia, menjaga akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari hal yang melampaui batas. Rasulullah Saw. benar-benar menjaga kehormatan penduduk Makkah. Penduduk yang tertaklukkan diperlakukan dengan santun sehingga menunjukkan kemuliaan ajaran Islam.