Jumat, 04 Agustus 2023

MAULANA MALIK IBRAHIM (SUNAN GRESIK)

Sunan Gresik
penyebar agama Islam di Indonesia
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/822 H) adalah Pemimpin Walisongo generasi pertama dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Ia dimakamkan di Desa Gapurosukolilo, Gresik.

SILSILAH:

Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Al-Imam Al-Husain bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Muhammad An-Naqib bin Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin As-Sayyid Ubaidillah bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)

Maulana Malik Ibrahim merupakan Orang tua dari para wali, dari beliau Islam di Nusantara ini berawal khususnya di Jawa, dari dzurriyah beliau pula Tokoh-tokoh Agama di Nusantara dicetak dan menyebar seantero Nusantara. Kiyai Kiyai sepuh yang ada, pendiri dan pengelola Pondok Pesantren di Jawa sebagian besar adalah ada sambungan hubungan keluarga.

Riwayat Dakwah

Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para Walisongo lainnya.[2] Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.

Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.[3]

Setelah berhasil memikat hati masyarakat sekitar, aktivitas selanjutnya yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.[4] Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.[5]

Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibu kota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibu kota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.[6]

Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam pada masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar