SUNAN AMPEL (W. 1479M)
2. Kedatangan di pulau Jawa
Kedatangannya ke pulau Jawa diperkirakan tahun 1440 M, atas undangan Prabu Sri Kertawijaya (w. 1451 M) Raja Kerajaan Majapahit bersama ayah dan saudara tuanya Ali Murtadho, dan Raden Burereh yang sebelumnya tinggal di Campa. Mereka datang bersama sejumlah kerabat. untuk memperbaiki prilaku masyarakat Majapahit yang konon saat itu mengalami kemunduran dan kemerosotan moral. Kedatangan rombongan ke Majapahit juga dikarenakan adanya hubungan keluarga antara ibunya dan istri Sri Prabu Kertawijaya, Dewi Darawati, yang berasal dari Campa.
3. Menikah dengan keluarga Kerajaan
Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban yang juga cucu Arya Lembu Sura, Raja Surabaya yang muslim. Dari pernikahannya, lahir anak dan cucu yang menjadi generasi penerus dakwahnya dalam menyebarkan Islam. Begitu pula hubungan kekerabatannya dengan penguasa Surabaya, Arya Lembu Sura, pada gilirannya membawa Raden Rahmat menjadi bupati, penguasa Surabaya.
B. Peran Sunan Ampel dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.
Dalam melakukan dakwah Islam di daerah Jawa, Sunan Ampel punya peran penting dalam pengembangan syiar Islam, yaitu:
a. Membentuk Jaringan Kekerabatan Dalam Menyebarkan Islam, dengan membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa kerajaan Majapahit.
b. Melakukan Perubahan Menuju Tradisi Bernilai Keislaman. Sunan Ampel membawa ajaran Islam yang disampaikan dengan cara-cara damai, moderat, toleran dan menyesuaikan tradisi masyarakat yang telah ada mengandung nilai-nilai Islam. sraddha, sebuah upacara peringatan atas kematian seseorang pada tahun ke-12. Setelah kedatangan penyiar Islam Campa yang dipelopori Sunan Ampel, penduduk Majapahit mulai memperingati tradisi kenduri, dan memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000. Dalam prakteknya, masyarakat berkumpul mendatangi keluarga yang ditinggal, lalu acara tersebut diisi dengan zikir, tahlil dan doa.
c. Membangun Masjid dan Pesantren Sebagai Pusat Penyebaran Islam, Masjid Ampel merupakan bangunan tempat ibadah yang menyimpan nilai sejarah. Arsitektur masjidnya memadukan arsitektur Hindu Budha dan khazanah Islam untuk kepentingan dakwah. Model atap tumpang pada masjid menggambarkan adanya akulturasi budaya Islam dan Hindhu-Budha. Tiang-tiang masjid masih kokoh hingga sekarang. Sunan Ampel juga membangun pesantren, tempat mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an, syariat dan tasawuf. Di tempat ini pula, ia mengkader para santri-santri yang akan melanjutkan dakwah Islam, diantaranya: Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, Sunan Derajat dan tokoh-tokoh lainnya.
Ajaran sunan Ampel yang banyak dikenal adalah falsafah limo atau tidak melakukan lima hal:
a) moh main atau tidak berjudi,
b) moh ngombe atau tidak mabuk-mabukan,
c) moh maling atau tidak mencuri,
d) moh madat atau tidak mengisap candu, dan
e) moh madon atau tidak berzina.
C. Sikap Positif Dalam Pribadi Sunan Ampel
Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Ampel patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan. Diantaranya:
1. Berdakwah dengan santun penuh kearifan, dengan tanpa caci maki terhadap pendapat dan agama lain.
2. Toleran dan selalu menjalin hubungan baik dengan semua kalangan.
3. Sosok pemimpin yang merangkul tanpa memandang kasta dan jabatan.
4. Seorang guru yang mendidik dengan penuh keihklasan dalam menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya, sehingg lahir generasi penyebar Islam ke penjuru Nusantara.
Hikmah
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [perkataan yang tegas danbenar)] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. ...( QS.Al-Nahl : 125)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar