Senin, 30 Oktober 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 6 BAB IV

 AKHLAK-KU

Materi Pokok : Sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Pembelajaran

1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat menerapkan sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dengan benar.

2. Melalui kegiatan observasi, siswa dapat mengomunikasikan pengalaman dalam menerapkan sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat. 


A. Pemaaf

Pengertian

Pemaaf berarti orang yang rela memberi maaf kepada orang lain, sikap pemaaf berarti sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa sedikitpun ada rasa benci dan keinginan untuk membalasnya.

Dalil : surah al-A’raf (7): 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya: Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. al-A’raf [7]: 199) 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."

Contoh pemaaf : Di dalam bergaul setiap hari, disengaja ataupun tidak disengaja pasti kita pernah berbuat salah bahkan mungkin hingga menyakiti sesama. Maka sebagai orang yang beriman dan memiliki etika, moral dam akhlak kita harus mampu menjadi orang pemaaf kepada sesama, sebab sifat pemaaf ini juga merupakan salah satu perintah Allah Swt. 

Hikmah : 

Di antara hikmah yang dapat dirasakan dari sikap pemaaf di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Seorang pemaaf akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari orang yang dimaafkan. 

2. Orang yang pemaaf akan memperkuat tali silaturrahim dengan orang lain, termasuk orang yang dimaafkan.

3. Sikap pemaaf menunjukkan seseorang tersebut bertakwa. Artinya, orang yang tidak memiliki sikap pemaaf berarti dia tidak disebut bertakwa dalam arti yang sebenarnya.

B. Tanggung Jawab 

Pengertian : Tanggung jawab adalah kesadaran diri manusia terhadap tingkah laku dan perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sesuatu sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab sangat erat kaitannya dengan kewajiban.

Tanggung jawab menjadi ciri manusia yang beradab. Manusia harus bertanggung jawab karena menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatannya. 

Cara membiasakan Tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari :  

a. selalu ingat kepada Allah bahwa segala perbuatan yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggung jawaban.

b. menyadari betapa beratnya amanah yang diberikan kepada manusia.

c. menyadari akibat buruk yang timbul dari sikap tidak bertanggung jawab.

d. berani mengakui kekurangan sendiri.

e. siap menerima risiko apapun dari kesalahan yang dilakukan.

Contoh : Sebagai seorang pelajar kewajiban kita adalah belajar. Dengan belajar kita telah bertanggung jawab terhadap kewajiban kita, jadi makna dari tanggung jawab sering dikaitkan dengan kewajiban. Maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajiban kita.

Dalil

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ

Artinya: Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, (QS. AlMudatsir. [74]: 38) 

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya, “Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya." (HR Bukhari).

Hikmah

1. Dipercaya orang lain

2. Menjadi manusia yang berguna

3. Memperoleh pahala dari Allah SWT

C. Adil

Pengertian : Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. 

Menurut istilah adil adalah meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya. 

Adil berarti seimbang atau tidak memihak dan memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak pada siapapun kecuali kepada kebenaran.

Contoh Adil : Tahukah kalian ? Banyak sekali contoh adil yang terjadi di sekitar kita. Anak yang membuang sampah di sembarang tempat, kemudian ditegur oleh bapak atau ibu guru agar diambil dan dibuang di tempat sampah, adalah bagian dari contoh adil. Karena adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. 

Dalil

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah [5]: 8)

Hikmah : Beberapa manfaat/hikmah bersikap adil diantaranya:

1. mendatangkan ridha Allah Swt.

2. memperoleh keberkahan hidup.

3. mendapatkan kebahagiaan batin.

4. disenangi banyak orang.

5. mendapatkan kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

6. terwujudnya masyarakat yang tentram, aman dan damai. 

D. Bijaksana

Pengertian : Bijaksana artinya selalu menggunakan akal budinya dengan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, bisa juga berarti cermat dan teliti serta berhati-hati.

Sikap bijaksana adalah sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa serta persoalan yang ada sehingga memancarlah keadilan, ketawadhuan dan kebeningan hati serta menyelesaikannya berdasarkan kebenaran dan tidak hanya mengikuti keinginan hawa nafsu saja.

Contoh/Teladan Bijaksana :

Ketika penduduk Makkah berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah, datanglah Rasulullah Saw. dan memberikan ide cemerlang. Nabi berkata: “Bagaimana kalau siapa yang besok pagi lebih dahulu memasuki masjid ini maka dialah yang berhak meletakan Hajar Aswad itu ke tempat semula”. Para pemuka Quraisy menyepakati usulan Nabi tersebut, dan ternyata yang datang pertama kali ke masjid adalah Nabi Muhammad Saw.. Berarti Nabi Muhammad Saw. yang berhak memindahkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula.

Untuk menghindari terjadi permusuhan diantara mereka, Nabi Muhammad Saw. tidak mau memindahkan sendiri. Sebaliknya Nabi Muhammad Saw. mengajak kepada semua pemuka kaum Quraisy itu untuk terlibat. Sehingga Nabi membentangkan kain sorbannya yang berbentuk empat persegi tersebut, kemudian diletakan Hajar Aswad diatas serbannya dan disuruh oleh Nabi agar empat orang pemuka Quraisy masing-masing memegang sudut sorban dan mengangkat secara bersama-sama ke tempat semula dan setelah Hajar Aswad berada di dekat tempatnya, barulah Nabi yang mengangkat dan meletakan Hajar Aswad di tempat semula.

Dalil

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl [16]:125)

Hikmah Bijaksana :

1. dapat terlaksana suatu aturan, karena orang yang bijaksana selalu berbuat sesuai aturan, sehingga terwujud keselarasan hidup bagi masyarakat.

2. dapat mewujudkan sikap disiplin.

3. dapat menegakan sesuatu yang hak (benar) karena perilaku bijaksana akan menimbulkan kebaikan dan kebaikan akan menghasilkan kebenaran.

4. dapat melaksanakan kewajiban, karena orang yang bijaksana selalu mengutamakan pelaksanaan kewajiban.

5. dapat mewujudkan sikap adil, karena orang yang bijaksana secara otomatis bersikap adil. 

RANGKUMAN 

1. Sebagai orang yang beriman dan memiliki etika, moral dam akhlak kita harus mampu menjadi orang pemaaf kepada sesama, sebab sifat pemaaf ini juga merupakan salah satu perintah Allah Swt..

2. Tanggung jawab adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu dengan sengaja atau tidak sengaja dan menanggung akibatnya.

3. Hukum tanggung jawab bagi setiap manusia adalah wajib.

4. Dengan sikap tanggung jawab maka setiap manusia akan mampu mengontrol diri sebelum melakukan sesuatu, sebab setiap yang dilakukan pasti akan ada risiko yang harus dihadapi.

5. Adil adalah menempatkan semua urusan pada tempat yang seharusnya.

6. Orang yang adil adalah orang yang berbuat sesuai aturan hukum; baik hukum agama, hukum positif (hukum negara) maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak pada siapapun kecuali kepada kebenaran.

7. Cara menjadi pribadi yang bijaksana:

a. Tidak emosional atau mudah marah

b. Tidak egois yang berarti hanya menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri

c. Memiliki kasih sayang terhadap sesama

d. Selalu berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik

Jumat, 27 Oktober 2023

SKI KELAS 6 SEMESTER GANJIL BAB V SUNAN DRAJAT (W. 1522 M)

SUNAN DRAJAT (W. 1522 M)  

Tujuan Pembelajaran

  1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat menganalisis biografi Sunan Maulana Malik Ibrahim dan perannya dalam mengembangkan Islam di Indonesia dengan benar.
  2. Melalui kegiatan diskusi, siswa dapat mengorganisasi kembali peran Sunan Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan Islam di Indonesia dengan tepat.

A. Biografi
Sunan Drajat atau Raden Qasim adalah putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, lahir tahun 1470 M. ia saudara kandung Raden Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang. Selain bernama Raden Qasim, dikenal juga dengan nama Maulana Hasyim, Raden Syarifudin, pangeran Kadrajat, dan Sunan Mayang Madu.
Ibunya berdarah Jawa yang membuat pengetahuannya tentang bahasa, sastra dan budaya lebih dominan bercorak Jawa, seperti Sunan Bonang kakaknya, ia pun sangat pandai menggubah berbagai jenis tembang macapat pungkur berisi pesan-pesan Islam. 

Menginjak usia sekolah, ia belajar langsung kepada Sunan Ampel, ayahnya. Kemudian Sunan Ampel mengirimnya ke Cirebon memperdalam ilmu agama kepada Sunan Gunung Jati. Setelah beberapa tahun berdakwah di Kadrajat Sunan Drajat kembali ke Ampeldenta, namun ayahanda nya memintanya menyebarkan Islam di pesisir barat Gresik.

Lewat seni dan budaya Sunan Drajat menyampaikan ajaran Islam sehingga masyarakat menerima Islam dengan baik.
Di usia tua, Sunan Drajat tinggal di Dalem Wulur, sebuah tempat tinggi arah selatan dari desa Drajat. Di sinilah ia menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwah. Terdapat sejumlah peninggalan yang terpelihara sampai sekarang, diantaranya singko mengkok yaitu seperangkat alat musik gamelan dan beberapa benda lainnya. Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 M, dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

B. Peran Sunan Drajat dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.
Dalam mengembangkan Islam di daerah Jawa, Sunan Drajat punya peran penting dalam, di antaranya:
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Dalam dakwahnya, Sunan Drajat dikenal dengan sosok yang berjiwa sosial, sangat peduli dengan kehidupan fakir miskin serta lebih mengutamakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 
2. Menanamkan pendidikan akhlak
Dalam menyampaikan dakwah, masyarakat mengenal pepali pitu (tujuh dasar ajaran) yang mencakup tujuh falsafah hidup yang dijadikan pijakan dalam kehidupan yang disampaikan sunan Drajat 

Isi pepali pitu
  1. Memangun resep tyasing sasama ( kita selalu membuat senang hati orang lain)
  2. Jroning Suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada).
  3. Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah ( dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan)
  4. Meper hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu indrawi)
  5. Heneng-Hening-Henung (Dalam diam akan tercapai keheningan, dan di dalam hening, akan mencapai jalan kebebasan mulia)
  6. Mulyaguna Panca Waktu (Pencapaian kemulian lahir batin dicapai dengan menjalani salat lima waktu)
  7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan. (Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.)
C. Sikap Positif dalam pribadi Sunan Drajat 

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Drajat patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan, antara lain : 
1. Merakyat dan peduli fakir miskin
2. Seniman yang mendidik
3. Berdakwah dengan arif dan bijaksana.


RANGKUMAN 

  1. Sunan Drajat atau Raden Qasim, putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, lahir tahun 1470 M. ia bersaudara kandung dengan Raden Mahdum Ibrahim.
  2. Raden Qasim belajar ilmu agama kepada ayahnya, Sunan Ampel, dan mendalaminya kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon.
  3. Dalam mengembangkan Islam di Indonesia, Sunan Drajat berperan penting dalam hal-hal sbb: 
          Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
          Menanamkan pendidikan ahlak lewat pepali pitu

      4. Teladan dari sikap Drajat yang diteladani antara lain:
       Merakyat dan peduli fakir miskin
       Seniman mendidik yang menjadikan seni untuk dakwah
       Menyebarkan Islam dengan arif dan bijaksana.

Senin, 23 Oktober 2023

Aqidah Akhlak kls 3 AKHLAK TERPUJI

Materi Pokok : sikap taat dan patuh terhadap Allah Swt., rasul-Nya, kedua orangtua, dan guru.  


Ayo belajar 

Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh. Secara istilah taat adalah tunduk dan patuh, baik terhadap perintah Allah SWT., Rasul-Nya, Orangtua, guru maupun ulil amri (pemimpin).

A. Taat kepada Allah Swt.

Allah Swt. memenuhi segala yang kita minta. Bahkan yang tidak kita minta pun Allah Swt. telah memenuhinya. Misalnya, kita tidak pernah berdoa kepada Allah Swt. agar ketika kita dilahirkan ke dunia nanti dilengkapi dengan pancaindra yang lengkap, tetapi Allah Swt. langsung memenuhinya. Masih banyak lagi rezeki dari Allah Swt. yang tidak mungkin kita sebut satu persatu.

Bagaimanakah cara taat kepada Allah Swt.? Berikut beberapa perbuatan yang bisa kita lakukan sebagai ungkapan ketaatan kita kepada Allah Swt. dan rasa syukur atas karunia rezeki yang tiada terhingga: 

  1. melaksanakan shalat di awal waktu, dan lebih utama jika dilaksanakan secara berjamaah 
  2. menjalankan puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa sunnah
  3. Berinfaq, bersedekah, dan menunaikan zakat 
  4. Selalu mengingat Allah Swt. dengan berzikir setiap saat, tidak hanya waktu selesai shalat 
  5. mempergunakan rezeki yang diterima di jalan kebaikan yang diridhai oleh Allah Swt. 
  6. berperilaku yang islami sesuai tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya. 
B. Taat kepada Rasul
1. Arti Taat kepada Rasul 
Taat kepada rasul berarti mengikuti semua ajaran yang dibawanya. Dalam hal ini adalah ajaran agama Islam. Semua rasul yang diutus Allah Swt. membawa risalah agama Islam. Setelah meyakini ajarannya, kita wajib mengikuti dan mengamalkannya. Tidak akan ada gunanya jika kita hanya meyakini, tetapi enggan untuk mengamalkanya. Misalnya, tidak mengerjakan shalat, enggan berzakat, serta tidak mau bersedekah. Sesungguhnya semua yang diajarkan para rasul merupakan perintah dari Allah Swt. Kalau tidak menaati apa yang diperintahkan rasul, berarti kita tidak menaati Allah Swt.. 
2. Cara Menaati Rasul 
Cara- cara menaati rasul, antara lain: 
  • mengetahui riwayat kehidupan para rasul, terutama Rasulullah Saw. dan ajaran yang dibawanya;
  • membenarkan berita yang disampaikan para rasul;
  • mengamalkan syariat yang dibawanya, dalam hal ini syariat Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul terakhir; 
  • mencintai dan membela para rasul, terutama Rasulullah Saw. 
  • meneladani kehidupan para rasul; 
  • menghidupkan Sunnah Rasulullah Saw. 
C. Taat kepada Orangtua 
Orangtua berjasa sangat besar terhadap hidup anak-anaknya. Andaikan harta yang dimiliki seorang anak digunakan untuk membalas jasa orangtuanya, belum tentu bisa sebanding dengan jasa dan pengorbanan orangtuanya.
Orangtua melahirkan anaknya ke dunia, merawat, mengasuh, membesarkan dan mendidiknya. Begitu besar jasa orangtua kepada anak-anaknya. Karena itu sudah sepatutnya anak berterima kasih kepada orangtuanya dengan cara berbuat baik, menghormati dan menaatinya. 

Allah Swt. berfirman: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…” (QS. Al-Isra[17]:23) Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk selalu patuh dan taat kepada kedua orangtuanya. Sebagai balas budi kita terhadap mereka maka kita harus patuh dan taat kepada mereka berdua.  

Orangtua adalah manusia yang sangat berjasa kepada kita. Beliau berdua rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. 
Berikut ini beberapa alasan mengapa kita harus patuh dan hormat kepada orangtua kita: 
 1. orangtua yang melahirkan kita 
 2. beliau berdua mengasuh anaknya sejak bayi hingga dewasa
 3. doa orangtua kita selalu tercurahkan untuk keberhasilan  
     dan kesuksesan kita 
 4. orangtua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan 
      keluarganya 
 5. Perintah Allah Swt. dan Rasulullah Saw. untuk selalu 
     berbakti kepada orangtua. 

berikut ini beberapa cara menghormati orangtua antara lain: 
  • menuruti perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama 
  • berbicara yang sopan kepada beliau berdua 
  • selalu menampakkan wajah ceria (tersenyum) di hadapan beliau 
  • rajin berdoa untuk keselamatan orangtua baik di dunia maupun di akhirat 
  • tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh orangtua
  • merawat beliau ketika sakit. 
D. Hormat dan Patuh kepada Guru

Bagaimana kita hormat dan patuh terhadap guru kita? Beberapa ciri dari sikap patuh dan taat kepada guru adalah sebagai berikut: 
 1. Sopan santun
 2. Menghargai 
 3. Taat  

Sikap hormat dan patuh tersebut dapat diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. 
Berikut adalah contoh perbuatan yang mencerminkan hormat dan patuh pada guru: 
  1. memperhatikan pengajaran yang diberikan oleh guru
  2. mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru
  3. melaksanakan segala nasihat guru 
  4. mengucapkan salam ketika berjumpa dengan guru
  5. mencium tangan guru ketika bersalaman 
  6. tidak melupakan kebaikan guru 
  7. berdiri menyambut guru 
  8. bertanya sesuatu yang belum dipahami dengan sopan
  9. tidak mendahului dan memutuskan pembicaraan. 

RANGKUMAN 
1. Allah Swt. adalah Tuhan yang wajib disembah oleh seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Alam semesta ini diciptakan oleh Allah Swt. untuk memenuhi kebutuhan manusia.
2. Rasul adalah utusan Allah Swt. Rasul yang wajib kita percayai berjumlah 25 orang rasul, dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad Saw.
3. Kita menaati rasul dengan cara melaksanakan ajaran yang beliau bawa dari Allah Swt.
4. Melalui belajar al-Qur’an dan Hadis, berarti kita menaati Rasulullah Saw..
5. Orangtua adalah manusia yang sangat berjasa kepada kita. Beliau berdua rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. Ridha Allah Swt. bergantung kepada ridha orangtua. Demikian pula kemurkaan Allah Swt. juga bergantung kemurkaan orangtua.
6. Orang yang juga sangat berjasa kepada kita adalah guru. Guru telah mendidik kita dan mengajari kita tentang banyak hal. Sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan pintar. Itulah salah satu alasan kita harus menghormati guru.

Jumat, 13 Oktober 2023

Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas 6 Pelajaran 4 Sunan Bonang

PETA KONSEP 

Pelajaran 4 Sunan Bonang mencakup tiga pembahasan, yaitu:

A. Biografi

Sunan Bonang, nama aslinya Mahdum Ibrahim, putra keempat Sunan Ampel dari pernikahannya dengan Nyi Ageng Manila, putri Arya Teja, Bupati Tuban. Tokoh ini diperkirakan lahir pada tahun 1465. Silsilah keluarganya bersambung dengan Rasullah Saw lewat ayahnya, Sunan Ampel, sampai ke Saydina Husein bin Ali dan Fatimah putri Nabi Muhammad Saw. 

Raden Mahdum Ibrahim belajar ilmu agama lansung kepada ayahnya, Sunan Ampel. Nyantri di Pesantren Sunan Ampel bersama Raden Paku, Raden Patah dan Raden Kusen . Ia juga mengeyam pendidikan agama di Aceh, berguru kepada Syaikh Maulana Ishak sewaktu singgah saat akan melakukan perjalanan haji ke tanah suci Makkah. Kecendrungan terhadap seni dan sastra membuatnya banyak belajar kesenian dan budaya Jawa, tentang kesusatraan Jawa, tembang-tembang jenis majapat yang populer masa itu kepada ibunya, seorang putri Bupati Tuban yang banyak memahami sastra Jawa. 

Mengawali dakwahnya, Raden Mahdum Ibrahim memasuki pedalaman Kediri, Jawa Timur, dengan mendirikan langgar ( mushalla) di tepi barat sungai Brantas, desa Singkal, Kabupaten Nganjuk. Gaya dakwah yang keras, seperti merusak arca yang dipuja penduduk menimbulkan konflik dan banyak tokoh yang memusuhi Sunan Bonang, terutama tokoh-tokoh ajaran Bhairawa-Tantra, Ki buto Lucoyadan Nyai Plencing. Dakwah Sunan Bonang belum mencapai keberhasilan, masyarakat Kediri masih belum menerima Islam hingga datang masanya Sunan Prapen tahun 1551 M. Kegagalan dakwah Sunan Bonang di kediri, mengantarkannya pindah ke Demak atas panggilan Raja Demak, Raden Patah, yang mengangkatnya sebagai imam Masjid Demak. 

Namun tidak lama kemudian ia melepaskan jabatan sebagai imam , kemudian pindah ke Lasem dan mendirikan sebuah zawiyah, tempat khusus untuk beribadah, dan digunakan juga oleh para pengamal tasawuf sebagai tempat khalwat. Kemudian Pada usia 30 tahun, Sunan Bonang dijadikan Wali Negara Tuban yang mengurusi berbagai hal yang menyangkut agama Islam.

B. Peran Sunan Bonang dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.

Dalam melakukan dakwah Islam di daerah Jawa, Sunan Bonang punya peran penting dalam pengembangan syiar Islam, yaitu:

1. Mengembangkan dakwah Islam lewat seni dan budaya

Keahlian dan kemampuan Sunan Bonang memahami sastra jawa dan tampil sebagai dalang, turut berperan melakukan penyempurnaan dalam bertunjukan sbb:

a). meyempurnakan susunan gamelan

b). menambahkan lagu-lagu,

c). menambahkan ricikan, seperti ricikan kuda, gajah, harimau, garuda, kreta perang, dan rampongan)

d). menggubah tembang-tembang Jawa dan membuat berbagi jenis gending.

e). Penemu alat musik bonang

2. Memasukkan nilai-nilai keislaman pada tradisi masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa mengenal ritual pancamakara dalam ajaran tantrayana, yaitu sebuah upacara yang dilakukan dengan duduk mengelilingi makanan. Di tengah-tengah duduk seorang Cakreswara (imam) sebagai pemimpinya membacakan mantra-mantra.

Melihat tradisi yang dilakukan masyarakat saat itu, Sunan Bonang mengisi tradisi ini dengan upacara kenduri atau selamatan dengan doa-doa Islam. Sebutan Anyakrawati (pemimpin lingkaran cakra) diberikan kepada Sunan Bonang karena ikut meneruskan tradisi dan mengubah isinya bernilai ajaran Islam. 

3. Menyebarkan dakwah melalui karya Sastra Suluk Wujil

Sunan Bonang juga menulis tentang pengetahuan taswuf yang lebih mendalam yaitu karyanya berjudul Suluk Wujil, yang ditulis dalam sastra Jawa, berbentuk tembang. Karya ini masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. 

C. Sikap Positif dalam Pribadi Sunan Bonang

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Bonang patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan.

1. Penyebar Islam yang gigih dan ulet

2. Seniman kreatif dan inovatif dalam mengembangkan media dakwah

3. Toleran dalam dakwah


RANGKUMAN 

 Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang adalah putra keempat Sunan Ampel. Silsilah Keluarganya bersambung dengan Rasullah Saw. dari jalur Saidina Husen bin Ali dan Fatimah putri Rasulullah Saw.

 Belajar ilmu agama di Pesantren Sunan Ampel dan memperdalam ilmunya kepada pamannya Syekh Maulana Malik Ibrahim, di Aceh.

 Berperan mengembangkan Islam di Indonesia, melalui;

- Seni pertunjukan wayang, gamelan dan menciptakan alat musik bonang

- Islamisasi tradisi masyarakat dengan memberikan nilai-nilai keislaman, seperti ritual pancamakara menjadi kenduri atau slametan

- Karya sastra suluk wujil berisi tembang-tembang Jawa yang berisi pesan agama

 Sikap positif dalam pribadi Sunan Bonang tercermin dalam pribadi sbb:

-Sosok seniman kreatif dan inovatif dalam mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan sastra

-Gigih dan ulet dalam menjalankan dakwah Islam

-Toleran dan bijaksana dalam mengembangkan islam di Indonesia


Selasa, 10 Oktober 2023

RASULULLAH SAW MENJAGA PERDAMAIAN DALAM PERISTIWA FATHU MAKKAH

Materi pelajaran SKI kelas 5 BAB IV

RASULULLAH SAW MENJAGA PERDAMAIAN DALAM PERISTIWA FATHU MAKKAH 

Setelah Rasulullah Saw.dan para sahabat nya yang berjumlah sekitar 10.000orang berhasil memasuki kota Makkah dengan aman, maka Rasulullah Saw.memimpin pembenahan kota Makkah. Dalam melakukan pembenahan diKota Makkah, Rasulullah Saw. bersikap santun. Hal ini ditunjukkan oleh: 

Pertama : Rasulullah Saw Memaafkan Penduduk Makkah, Sesampainya dikotaMakkah, Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat mendirikan tenda lengkung, berbentuk kubah, tidak jauh dari makam Abu Talib dan sayyidah Khadijah. Kemudian Rasulullah Saw. masuk kedalam kemah lengkung tersebut dan beristirahat seraya mengungkapkan rasa syukur. Rasulullah Saw. bersyukur kembalike Makkah dengan terhormat. Beliau teringat kota Makkah dulu penduduk nya telah  mengganggu dan mengusirnya dari keluarga dan kampung halamannya. Rasulullah Saw. melepaskan pandangan nya kelembah wadi dan gunung-gunung yang ada di sekelilingnya. Gunung-gunung, tempat Rasulullah berkhalwat untuk menenangkan diri atas perlakuan kasar kafir Quraisy. Di gua Hira daerah pegunungan itu pula, beliau menerima Wahyu yang pertama.

Kemudian Rasulullah Saw. bertanya kepada penduduk Makkah: "Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kalian, apa yang akan aku perbuat terhadap kalian sekarang?" 

Kaum Quraiys pun menjawab: “Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah." 

Rasulullah Saw. kemudian bersabda : "Pergilah kamu sekalian, Kalian sekarang sudah bebas!” 

Rasulullah Saw. kemudian membaca surat Yusuf ayat 92

قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

Artinya: “Dia (Yusuf)berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampunikamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang "

Dengan sabda Rasulullah Saw tersebut, maka seluruh penduduk Makkah mendapatkan pengampunan umum (amnesti). Rasulullah Saw. bersikap santun dengan memaafkan kesalahan penduduk Makkah dimasa lalu.

Rasulullah menunjukkan kepada seluruh dunia sikap memaafkan setelah memperoleh kemenangan. Rasulullah Saw. benar-benar teguh pada prinsip dan menepati janjinya yakni akan membuat kota Makkah aman. Sikap ini sebelumnya tidak pernah dimiliki dalam sejarah penguasa yang memperoleh sebuah kemenangan. 

kaum muslimin tidak mengikuti langkah Rasulullah Saw. dengan penuh lapang dada memafkan penduduk Makkah, menerimanya sebagai saudara bagi yang masuk Islam, dan melupakan kesalahan-kesalahan masa lalu. Sikap ini sangat luhur dan patut dicontoh oleh sekalian bangsa, manusia yang mempunyai akal sehat dan perasaan perikemanusiaan yang peka.

Pemaaf adalah bukti keimanan kepada Allah. Karena dengan pemaaf berarti meniru sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya yang sangat bijaksana, mentaati perintah-Nya dan menjadikan Rasul sebagai teladan. Rasululah Saw. tidak pernah mengajarkan balas dendam, sebaliknya menekankan sikap lapang dada dan pemaaf.

Kedua : Rasulullah Membersihkan Berhala di Ka’bah

Rasulullah Saw. kemudian memasuki Ka'bah. Beliau menyaksikan dinding- dinding Ka'bah sudah penuh lukisan-lukisan malaikat dan para nabi. Di antaranya adalah lukisan Nabi Ibrahim a . s . yang memegang panah untuk mengadu nasib (azlam). Ada juga sebuah patung burung dari kayu. Kemudian beliau menghancurkan patung tersebut.

Ketika melihat gambar Nabi Ibrahim, Rasulullah Saw. tertegun sejenak lalu bersabda: “mudah-mudahan Allah Swt. membinasakan orang-orang yang membuat lukisan ini!

Orang tua kita Nabi Ibrahim a.s. digambarkan mengundi nasib. Apa hubungannya Nabi Ibrahim dengan azlam'? Ibrahim bukan orang Yahudi, juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

Sedang malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita cantik, gambar-gambar itu oleh Rasulullah Saw disangkal sama sekali, sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan perempuan.

Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu dihancurkan. Patung-patung berhala di sekitar K’abah yang berjumlah 360 buah dihancurkan. Dengan tongkat di tangan, Rasulullah Saw. menunjuk kepada berhala-berhala tersebut seraya membaca firman Allah SWT surat al-Isra’ ayat 81:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Artinya: "Dan katakanlah : yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap." (Qur'an, 17: 81)

Rasulullah Saw. berhasil membersihkan Ka’bah dari berhala. Berhala-berhala tersebut tidak bisa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong kaum kafir Makkah. Berhala tidak dapat memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya. Karena itu, berhala tidak layak disembah. Siapa yang menyembah berhala berarti telah berbuat syirik dan tersesat. 

Kemudian, Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat Bilal mengumandangkan azan dari atas Ka'bah. Sebagian penduduk Makkah kaget, karena sebelumnya tidak mengetahui sahabat Bilal terbiasa mengumandangkan azan. Sebagian mereka berkata: "Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?” 

Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat, berikut ini: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Tetapi orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah orang yang paling takwa (menjaga diri dari kejahatan). Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengerti." (Qur'an, 49: 13)

Ketiga : Rasulullah Saw. Menjaga Kehormatan Penduduk Makkah

Peristiwa kemenangan atas kota Makkah tersebar luas ke seluruh dunia Arab. Para saudagar yang melewati Makkah mengetahui dengan mata kepala mereka bahwa kaum muslimin tidak melakukan pertumpahan darah. Kaum muslimin yang selama ini dicaci maki, diejek, disiksa, diancam mau dibunuh, bahkan berulangkali diperangi oleh kaum kafir Makkah tidak membalas dendam. Padahal, kekuatan kaum muslimin sudah berhasil masuk ke kota Makkah. Tetapi mereka ta’at sepenuhnya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah dan Rasulullah Saw. mengajarkan kedamaian, melarang dendam kesumat, memaafkan kesalahan antar sesama manusia, melindungi kaum yang mau menyerah, menghormati hak-hak manusia, menjaga akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari hal yang melampaui batas. Rasulullah Saw. benar-benar menjaga kehormatan penduduk Makkah.

Penduduk yang tertaklukkan diperlakukan dengan santun sehingga menunjukkan kemuliaan ajaran Islam. Masa peperangan sudah berakhir. Kaum muslimin diperintahkan melakukan dakwah di Makkah dengan damai. Melanjutkan dakwah Islamiah kepada penduduk Makkah yang masih kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Kaum muslimin membangun peradaban baru di Makkah dengan menekankan ukhuwah Islamiah, kedamaian, keadilan, musyawarah, saling menyayangi dan menolong, serta melindungi sesama. Kebiasaan-kebiasaan saling membunuh dan berperang mereka tingalkan. Makkah memulai hidup baru di bawah panji-panji Islam dan sinaran hidayah Allah SWT.

Setelah lima belas hari Makkah, Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Pada mulanya kaum Ansar khawatir Rasulullah Saw. akan terus tinggal di Makkah, namun Rasulullah Saw mengetahui kekhawatiran itu dan bersabda: "Berlindunglah kita kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kamu." Rasulullah Saw. setia dengan baiat Aqabah dan kembali ke Madinah dan tinggal di Madinah sampai akhir hayat.

RANGKUMAN 

  1. Peristiwa fathu Makkah memberikan keteladanan Rasulullah Saw. dalam menjaga perdamaian. Rasulullah Saw bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Rasulullah Saw. menunjukkan kepada seluruh dunia sikap memaafkan setelah memperoleh kemenangan. Rasulullah Saw. benar-benar teguh pada prinsip dan menepati janjinya yakni akan membuat kota Makkah aman. Sikap ini sebelumnya tidak pernah dimiliki dalam sejarah penguasa yang memperoleh sebuah kemenangan.
  2. Saat fathu makkah, Rasulullah Saw memasuki Ka'bah. Beliau menyaksikan dinding-dinding Ka'bah sudah penuh lukisan-lukisan malaikat dan para nabi. Di sekitar Ka’bah juga banyak berjejer berhala. Rasulullah Saw menghancurkan berhala-berhala tersebut. 
  3. Meskipun memperoleh kemenangan, Rasulullah mengajarkan kedamaian, melarang dendam kesumat, memaafkan kesalahan antarsesama manusia, melindungi kaum yang mau menyerah, menghormati hak-hak manusia, menjaga akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari hal yang melampaui batas. Rasulullah Saw. benar-benar menjaga kehormatan penduduk Makkah. Penduduk yang tertaklukkan diperlakukan dengan santun sehingga menunjukkan kemuliaan ajaran Islam.