Rabu, 29 November 2023

Hikmah Waktu dan Jumlah Rakaat Shalat

 السلام عليكم و رحمة الله و بركاته بسم الله و الحمد لله اللهم صل و سلم على سيدنا محمد و على أله و صحبه أجمعين


Shalat merupakan shalat satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Dari waktu 24 jam dalam satu hari satu malam, umat Islam hanya diminta melaksanakan shalat 5 kali, yaitu shalat Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib, dan Isya. Masing-masing shalat tersebut sudah ditentukan waktu dan jumlah rakaatnya. Mengenai hal ini, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Sullam al-Munajah (Surabaya: Al-Haramain, tanpa tahun), halaman 12, menjelaskan bahwa ada hikmah di balik penentuan waktu shalat dan hitungan jumlah rakaat yang ada di dalamnya. Semua itu tidak lepas dari beberapa peristiwa penting yang terjadi pada nabi-nabi terdahulu.

Shalat Subuh 

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat subuh adalah Nabi Adam. Kisah ini bermula ketika Allah menurunkannya dari surga ke bumi. Ketika Nabi Adam berada di bumi, ia sangat takut dan khawatir karena keadaan di bumi sangat gelap dan tidak ada cahaya sama sekali. Tidak lama kemudian, terbitlah fajar yang menghilangkan kekhawatiran dan rasa takut Nabi Adam. Di saat itu pula Nabi Adam melakukan shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur. Rakaat pertama bersyukur kepada Allah karena telah diselamatkan dari gelapnya malam tersebut, sedangkan rakaat kedua sebagai bentuk syukur karena terbitnya fajar yang bisa menerangi bumi dan seisinya

Shalat Dzuhur 

Orang pertama yang melaksanakan shalat dzuhur adalah Nabi Ibrahim. Kisah ini bermula ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail. Singkat cerita, Nabi Ismail diganti dengan seekor domba dari surga yang dibawa oleh malaikat Jibril. Kisah ini terjadi tepat ketika tergelincirnya matahari di waktu dzuhur. Atas kejadian itu, Nabi Ibrahim kemudian menunaikan shalat sebanyak empat rakaat. Rakaat pertama sebagai bentuk syukur kepada Allah karena telah mengganti Ismail dengan domba untuk disembelih, rakaat kedua sebagai syukur atas hilangnya kesedihannya pada anaknya, rakaat ketiga sebagai bentuk permohonan ridha kepada Allah atas kejadian tersebut, dan rakaat yang keempat sebagai syukur atas karunia nikmat yang telah Allah berikan, yaitu berupa domba dari surga


Shalat Ashar 

Orang pertama yang mengerjakan shalat Ashar adalah Nabi Yunus tidak lama setelah Allah keluarkan ia dari dalam perut ikan. Allah mengeluarkannya tepat pada waktu Ashar, saat keluar ia seperti anak burung unggas yang tidak memiliki bulu. Empat rakaat shalat ashar yang dilaksanakan Nabi Yunus sebagai bentuk syukur kepada Allah atas keselamatan dirinya dari empat kegelapan, yaitu: 
(1) kegelapan dalam isi perut ikan; 
(2) kegelapan berada di dalam air; 
(3) kegelapan di malam hari; dan 
(4) kegelapan dalam perut ikan itu sendiri. 

Shalat Maghrib 

Orang pertama yang melaksanakan shalat maghrib adalah Nabi Isa. Kisah ini berawal ketika ia dikejar oleh kaumnya untuk dibunuh ketika waktu terbenamnya matahari. Setelah ia selamat dari kejaran itu, akhirnya Nabi Isa mengerjakan shalat sebanyak tiga rakaat. Rakaat pertama sebagai bentuk kemantapan aqidah (tauhid) bahwa tidak ada tuhan selain Allah, rakaat kedua untuk menghilangkan tuduhan kaumnya yang mengatakan bahwa Nabi Isa merupakan hasil anak zina ibunya (Sayyidah Maryam) dengan orang lain, sedangkan rakaat yang ketiga untuk memantapkan keyakinan bahwa semua kejadian yang menimpanya merupakan ketetapan dari Allah.

Shalat Isya 

Orang pertama yang melaksanakan shalat Isya adalah Nabi Musa. Kisah ini bermula ketika ia tersesat di perjalanan saat akan keluar dari Madyan. Saat itu, Nabi Musa sangat sedih karena empat hal, yaitu: 
(1) sedih karena telah meninggalkan istrinya; 
(2) sedih karena telah berpisah dengan saudaranya, Nabi Harun; 
(3) sedih karena telah meninggalkan putranya; dan 
(4) sedih atas kezaliman Fir’aun.

Ketika Nabi Musa ditimpa oleh berbagai kesedihan tersebut, akhirnya Allah menolong dan menyelamatkan dari 4 kesedihan tersebut. Kemudian ia melakukan shalat sebanyak empat rakaat, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas pertolongan tersebut. Kejadian ini tepat pada waktu isya.

Itulah hikmah yang terkandung di balik ketentuan waktu dan jumlah rakaat dalam shalat fardhu 5 waktu. Wallâhu a‘lam.


Sabtu, 18 November 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 4 BAB 6 SEMESTER GANJIL

MENGHINDARI SIKAP TERCELA MELALUI KISAH TSA’LABAH

Tujuan Pembelajaran

Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat memahami cara menghindari sifat kikir dan kufur nikmat dalam kisah Tsa'labah dengan benar.

Melalui kegiatan diskusi, siswa dapat mengomunikasikan cara menghindari kikir dan kufur nikmat dengan tepat.

A. Kisah Tsa’labah

Kisah Tsa‟labah adalah salah satu sahabat Rasulullah Saw yang ketika miskin rajin beribadah namun dengan lelahnya menjadi orang miskin akhirnya minta Rasulullah Saw agar mendoakannya menjadi orang kaya. Rasulullah Saw mengabulkan permintaannya, akhirnya jadilah Tsa‟labah menjadi kaya raya. Dan apa yang terjadi? 

Tsalabah lupa mengerjakan shalat berjamaah di masjid bersama Rasulullah Saw. Bahkan lupa mengerjakan Shalat Jumat karena kesibukannya mengurus hewan ternak.Selain melupakan janjinya, Tsalabah juga enggan membayar zakat.

Tsalabah termasuk orang yang tidak mentaati Allah Swt. dan Rasulnya. Tsalabah juga termasuk orang yang tamak, sombong, dan kufur nikmat. Setelah hewan ternaknya banyak, waktunya hanya dipergunakan untuk mengurusi hewannya dan memikirkan bagaimana supaya ternaknya terus bertambah dan bertambah.

Audio visual tentang Tsa'labah 🎦

Demikianlah kisah Tsalabah, Allah sangat murka kepada orang yang berakhlak tercela, seperti tergambar dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 75-78

وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ 

فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ

فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ 

Artinya:

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami termasuk orang orang yang saleh (75).

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran (76).

Maka Allah. menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah , karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta (77).

Mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, danbahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib (78).”

B. Mengambil Hikmah Dari Kisah Tsa’labah

Sebagai anak muslim harus menghindari sifat-sifat tercela yang dimiliki oleh Tsalabah, diantaranya dengan cara: menjaga mulut, telinga, mata, tangan dan hati kita agar selalu mengingat kebesaran Allah Swt. Menyadari bahwa akhlak tercela akan menyiksa diri kita sendiri. Menyadari bahwa ingkar janji akan mendatangkan laknat Allah Swt.

Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Tsa'labah adalah:

1. Selalu beribadah baik ketika sempit maupun lapang.
2. Selalu syukur nikmat terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt.
3. Menghindari sifat takabur dan kikir.
4. Beribadah hanya karena Allah Swt. dan
5. Selalu menepati janji serta taat kepada Allah Swt.

Rangkuman
1. Akhlak tercela dapat membahayakan dan merugikan diri sendiri dan orang lain.
2. Sifat-sifat tercela, yang dimiliki Tsa‟labah, antara lain tidak menepati janji, kikir, sombong, kufur nikmat, dan dzalim
3. Kufur nikmat berarti mengingkari pemberian Allah Swt. dengan cara menyalahgunakannya, melalaikannya, atau memakainya untuk jalan yang dibenci (tidak diridhai) oleh Allah Swt.
4. Ibadah yang dilanggar Tsa‟labah adalah zakat dan salat.
5. Akibat berperilaku tercela
  • a. dimurkai Allah Swt.
  • b. tidak disenangi sesama
  • c. kesengsaraan di dunia dan azab di akhirat
6. Hikmah yang dapat diambil dari kisah Tsa‟labah
  • a. Selalu beribadah, baik ketika sempit maupun lapang
  • b. Selalu syukur nikmat terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt.
  • c. Menghindari sifat takabur dan kikir
  • d. Beribadah hanya karena Allah

Soal latihan 
  1. Apakah permintaan Tsa'labah kepada Nabi Muhammad Saw.?
  2. Sebutkan 4 perilaku tercela Tsa'labah yang harus kalian hindari?
  3. Menurut pendapatmu bagaimana cara menghindari perilaku tercela?
  4. Apa akibatnya jika kalian berperilaku tercela?
  5. Sebutkan 3 hikmah dari kisah Tsa'labah!

Sabtu, 11 November 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 4 BAB 5

INDAHNYA BERPERILAKU TERPUJI

Kompetensi Dasar 

3.5 Memahami makna sikap tabah dan sabar menghadapi cobaan melalui kisah Bilal bin Rabah

4.5 Mengomunikasikan manfaat sikap tabah dan sabar menghadapi cobaan melalui kisah Bilal bin Rabah

A. Kisah Bilal Bin Rabbah

(Kisah singkat Bilal Bin Rabbah)

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Saw. mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu‟minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, „Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus Sauda‟ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Ketika Abu Bakar memberitahu Rasulullah Saw. bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya. Rasulullah Saw. berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.” Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Saw. mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu „anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan „Amir bin Fihr.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Saw. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Saw. ke mana pun beliau pergi.

Ayo berdiskusi

1. Mengapa Bilal bin Rabbah disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy?

2. Siksaan apa yang diberikan kafir Quraisy kepada Bilal bin Rabbah?

3. Apakah dengan siksaan yang berat Bilal menjadi menyerah dan goyah dalam menyembah Allah Swt? mengapa?

4. Bagaimana Bilal menghadapi cobaan dalam mempertahankan keimanannya kepada Allah Swt.?

5. Apa yang bisa kamu teladani dari Bilal bin Rabbah ?

B. Sabar dan Tabah Menghadapi Cobaan dari Allah Swt

Tahukah kamu apa itu sabar,sudahkah kamu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana caranya? yuk kita cari tahu!

Sabar adalah rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas serta berserah diri kepada Allah Swt. Sabar secara lebih luas juga diartikan menahan diri agar tidak mudah marah, benci, dendam, tidak mudah putus asa, melatih diri dalam ketaatan dan membentengi diri agar tidak melakukan perbuatan keji dan maksiat. 

Dalam Islam, ada tiga bentuk sabar yakni :

  1. Sabar dalam ketaatan menjalankan perintah Allah Swt,
  2. Sabar dalam menghadapi musibah atau terhadap apa yang telah ditakdirkan
  3. Sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat atau apa yang dilarang Allah Swt
Orang yang beriman hendaknya bersabar atas segala ujian, cobaan dan musibah yang datang kepadanya. Percaya bahwa Allah Swt. tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas
kemampuannya. Ketika mendapatkan cobaan, maka bersabar dan ikhlas dengan apa yang terjadi. Karena sesungguhnya Allah Swt itu bersama dengan orang-orang sabar.

Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 153
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar“. (QS. Al-Baqarah: 153)

Hikmah atau keuntungan sabar diantaranya:
  1. Sabar sebagai penolong, pembawa keberuntungan.
  2. Memberikan ketentraman jiwa.
  3. Mendapat kesuksesan bagi yang berusaha, bekerja dan belajar. 
agar kalian selalu tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan
  1. Terima cobaan dari Allah Swt. dengan ikhlas. Allah Swt. memberi cobaan pada hambanya tidak akan melebihi dari kemampuan hambanya dalam menerima cobaan tersebut.
  2. Ingat janji Allah Swt. sesungguhnya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan.
  3. Mengambil hikmah dari cobaan yang menimpa. Sepahit apa pun cobaan yang kita terima, pasti ada hikmah dibaliknya.
  4. Berdo‟a dan bertawakkal. Kita harus yakin bahwa hanya Allah-lah satu- satunya yang dapat memberi pertolongan dan jalan keluar semua cobaan yang kita hadapi.
Ayo berdiskusi
1. Tulislah contoh sabar dalam menjalankan perintah dari Allah Swt!
2. Mengapa kita harus sabar dan tabah dalam menerima ujian atau musibah?
3. Apa yang kamu lakukan jika ada temanmu yang suka mengeluh dan tidak sabar dalam menghadapi cobaan?
4. Bagaimana menurut pendapatmu agar senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan?

Senin, 30 Oktober 2023

AQIDAH AKHLAK KLS 6 BAB IV

 AKHLAK-KU

Materi Pokok : Sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Pembelajaran

1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat menerapkan sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dengan benar.

2. Melalui kegiatan observasi, siswa dapat mengomunikasikan pengalaman dalam menerapkan sifat pemaaf, tanggung jawab, adil, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat. 


A. Pemaaf

Pengertian

Pemaaf berarti orang yang rela memberi maaf kepada orang lain, sikap pemaaf berarti sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa sedikitpun ada rasa benci dan keinginan untuk membalasnya.

Dalil : surah al-A’raf (7): 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya: Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. al-A’raf [7]: 199) 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."

Contoh pemaaf : Di dalam bergaul setiap hari, disengaja ataupun tidak disengaja pasti kita pernah berbuat salah bahkan mungkin hingga menyakiti sesama. Maka sebagai orang yang beriman dan memiliki etika, moral dam akhlak kita harus mampu menjadi orang pemaaf kepada sesama, sebab sifat pemaaf ini juga merupakan salah satu perintah Allah Swt. 

Hikmah : 

Di antara hikmah yang dapat dirasakan dari sikap pemaaf di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Seorang pemaaf akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari orang yang dimaafkan. 

2. Orang yang pemaaf akan memperkuat tali silaturrahim dengan orang lain, termasuk orang yang dimaafkan.

3. Sikap pemaaf menunjukkan seseorang tersebut bertakwa. Artinya, orang yang tidak memiliki sikap pemaaf berarti dia tidak disebut bertakwa dalam arti yang sebenarnya.

B. Tanggung Jawab 

Pengertian : Tanggung jawab adalah kesadaran diri manusia terhadap tingkah laku dan perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sesuatu sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab sangat erat kaitannya dengan kewajiban.

Tanggung jawab menjadi ciri manusia yang beradab. Manusia harus bertanggung jawab karena menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatannya. 

Cara membiasakan Tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari :  

a. selalu ingat kepada Allah bahwa segala perbuatan yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggung jawaban.

b. menyadari betapa beratnya amanah yang diberikan kepada manusia.

c. menyadari akibat buruk yang timbul dari sikap tidak bertanggung jawab.

d. berani mengakui kekurangan sendiri.

e. siap menerima risiko apapun dari kesalahan yang dilakukan.

Contoh : Sebagai seorang pelajar kewajiban kita adalah belajar. Dengan belajar kita telah bertanggung jawab terhadap kewajiban kita, jadi makna dari tanggung jawab sering dikaitkan dengan kewajiban. Maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajiban kita.

Dalil

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ

Artinya: Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, (QS. AlMudatsir. [74]: 38) 

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya, “Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya." (HR Bukhari).

Hikmah

1. Dipercaya orang lain

2. Menjadi manusia yang berguna

3. Memperoleh pahala dari Allah SWT

C. Adil

Pengertian : Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. 

Menurut istilah adil adalah meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya. 

Adil berarti seimbang atau tidak memihak dan memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak pada siapapun kecuali kepada kebenaran.

Contoh Adil : Tahukah kalian ? Banyak sekali contoh adil yang terjadi di sekitar kita. Anak yang membuang sampah di sembarang tempat, kemudian ditegur oleh bapak atau ibu guru agar diambil dan dibuang di tempat sampah, adalah bagian dari contoh adil. Karena adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. 

Dalil

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah [5]: 8)

Hikmah : Beberapa manfaat/hikmah bersikap adil diantaranya:

1. mendatangkan ridha Allah Swt.

2. memperoleh keberkahan hidup.

3. mendapatkan kebahagiaan batin.

4. disenangi banyak orang.

5. mendapatkan kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

6. terwujudnya masyarakat yang tentram, aman dan damai. 

D. Bijaksana

Pengertian : Bijaksana artinya selalu menggunakan akal budinya dengan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, bisa juga berarti cermat dan teliti serta berhati-hati.

Sikap bijaksana adalah sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa serta persoalan yang ada sehingga memancarlah keadilan, ketawadhuan dan kebeningan hati serta menyelesaikannya berdasarkan kebenaran dan tidak hanya mengikuti keinginan hawa nafsu saja.

Contoh/Teladan Bijaksana :

Ketika penduduk Makkah berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah, datanglah Rasulullah Saw. dan memberikan ide cemerlang. Nabi berkata: “Bagaimana kalau siapa yang besok pagi lebih dahulu memasuki masjid ini maka dialah yang berhak meletakan Hajar Aswad itu ke tempat semula”. Para pemuka Quraisy menyepakati usulan Nabi tersebut, dan ternyata yang datang pertama kali ke masjid adalah Nabi Muhammad Saw.. Berarti Nabi Muhammad Saw. yang berhak memindahkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula.

Untuk menghindari terjadi permusuhan diantara mereka, Nabi Muhammad Saw. tidak mau memindahkan sendiri. Sebaliknya Nabi Muhammad Saw. mengajak kepada semua pemuka kaum Quraisy itu untuk terlibat. Sehingga Nabi membentangkan kain sorbannya yang berbentuk empat persegi tersebut, kemudian diletakan Hajar Aswad diatas serbannya dan disuruh oleh Nabi agar empat orang pemuka Quraisy masing-masing memegang sudut sorban dan mengangkat secara bersama-sama ke tempat semula dan setelah Hajar Aswad berada di dekat tempatnya, barulah Nabi yang mengangkat dan meletakan Hajar Aswad di tempat semula.

Dalil

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl [16]:125)

Hikmah Bijaksana :

1. dapat terlaksana suatu aturan, karena orang yang bijaksana selalu berbuat sesuai aturan, sehingga terwujud keselarasan hidup bagi masyarakat.

2. dapat mewujudkan sikap disiplin.

3. dapat menegakan sesuatu yang hak (benar) karena perilaku bijaksana akan menimbulkan kebaikan dan kebaikan akan menghasilkan kebenaran.

4. dapat melaksanakan kewajiban, karena orang yang bijaksana selalu mengutamakan pelaksanaan kewajiban.

5. dapat mewujudkan sikap adil, karena orang yang bijaksana secara otomatis bersikap adil. 

RANGKUMAN 

1. Sebagai orang yang beriman dan memiliki etika, moral dam akhlak kita harus mampu menjadi orang pemaaf kepada sesama, sebab sifat pemaaf ini juga merupakan salah satu perintah Allah Swt..

2. Tanggung jawab adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu dengan sengaja atau tidak sengaja dan menanggung akibatnya.

3. Hukum tanggung jawab bagi setiap manusia adalah wajib.

4. Dengan sikap tanggung jawab maka setiap manusia akan mampu mengontrol diri sebelum melakukan sesuatu, sebab setiap yang dilakukan pasti akan ada risiko yang harus dihadapi.

5. Adil adalah menempatkan semua urusan pada tempat yang seharusnya.

6. Orang yang adil adalah orang yang berbuat sesuai aturan hukum; baik hukum agama, hukum positif (hukum negara) maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak pada siapapun kecuali kepada kebenaran.

7. Cara menjadi pribadi yang bijaksana:

a. Tidak emosional atau mudah marah

b. Tidak egois yang berarti hanya menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri

c. Memiliki kasih sayang terhadap sesama

d. Selalu berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik

Jumat, 27 Oktober 2023

SKI KELAS 6 SEMESTER GANJIL BAB V SUNAN DRAJAT (W. 1522 M)

SUNAN DRAJAT (W. 1522 M)  

Tujuan Pembelajaran

  1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat menganalisis biografi Sunan Maulana Malik Ibrahim dan perannya dalam mengembangkan Islam di Indonesia dengan benar.
  2. Melalui kegiatan diskusi, siswa dapat mengorganisasi kembali peran Sunan Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan Islam di Indonesia dengan tepat.

A. Biografi
Sunan Drajat atau Raden Qasim adalah putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, lahir tahun 1470 M. ia saudara kandung Raden Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang. Selain bernama Raden Qasim, dikenal juga dengan nama Maulana Hasyim, Raden Syarifudin, pangeran Kadrajat, dan Sunan Mayang Madu.
Ibunya berdarah Jawa yang membuat pengetahuannya tentang bahasa, sastra dan budaya lebih dominan bercorak Jawa, seperti Sunan Bonang kakaknya, ia pun sangat pandai menggubah berbagai jenis tembang macapat pungkur berisi pesan-pesan Islam. 

Menginjak usia sekolah, ia belajar langsung kepada Sunan Ampel, ayahnya. Kemudian Sunan Ampel mengirimnya ke Cirebon memperdalam ilmu agama kepada Sunan Gunung Jati. Setelah beberapa tahun berdakwah di Kadrajat Sunan Drajat kembali ke Ampeldenta, namun ayahanda nya memintanya menyebarkan Islam di pesisir barat Gresik.

Lewat seni dan budaya Sunan Drajat menyampaikan ajaran Islam sehingga masyarakat menerima Islam dengan baik.
Di usia tua, Sunan Drajat tinggal di Dalem Wulur, sebuah tempat tinggi arah selatan dari desa Drajat. Di sinilah ia menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwah. Terdapat sejumlah peninggalan yang terpelihara sampai sekarang, diantaranya singko mengkok yaitu seperangkat alat musik gamelan dan beberapa benda lainnya. Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 M, dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

B. Peran Sunan Drajat dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.
Dalam mengembangkan Islam di daerah Jawa, Sunan Drajat punya peran penting dalam, di antaranya:
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Dalam dakwahnya, Sunan Drajat dikenal dengan sosok yang berjiwa sosial, sangat peduli dengan kehidupan fakir miskin serta lebih mengutamakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 
2. Menanamkan pendidikan akhlak
Dalam menyampaikan dakwah, masyarakat mengenal pepali pitu (tujuh dasar ajaran) yang mencakup tujuh falsafah hidup yang dijadikan pijakan dalam kehidupan yang disampaikan sunan Drajat 

Isi pepali pitu
  1. Memangun resep tyasing sasama ( kita selalu membuat senang hati orang lain)
  2. Jroning Suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada).
  3. Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah ( dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan)
  4. Meper hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu indrawi)
  5. Heneng-Hening-Henung (Dalam diam akan tercapai keheningan, dan di dalam hening, akan mencapai jalan kebebasan mulia)
  6. Mulyaguna Panca Waktu (Pencapaian kemulian lahir batin dicapai dengan menjalani salat lima waktu)
  7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan. (Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.)
C. Sikap Positif dalam pribadi Sunan Drajat 

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Drajat patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan, antara lain : 
1. Merakyat dan peduli fakir miskin
2. Seniman yang mendidik
3. Berdakwah dengan arif dan bijaksana.


RANGKUMAN 

  1. Sunan Drajat atau Raden Qasim, putra bungsu Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila, lahir tahun 1470 M. ia bersaudara kandung dengan Raden Mahdum Ibrahim.
  2. Raden Qasim belajar ilmu agama kepada ayahnya, Sunan Ampel, dan mendalaminya kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon.
  3. Dalam mengembangkan Islam di Indonesia, Sunan Drajat berperan penting dalam hal-hal sbb: 
          Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
          Menanamkan pendidikan ahlak lewat pepali pitu

      4. Teladan dari sikap Drajat yang diteladani antara lain:
       Merakyat dan peduli fakir miskin
       Seniman mendidik yang menjadikan seni untuk dakwah
       Menyebarkan Islam dengan arif dan bijaksana.

Senin, 23 Oktober 2023

Aqidah Akhlak kls 3 AKHLAK TERPUJI

Materi Pokok : sikap taat dan patuh terhadap Allah Swt., rasul-Nya, kedua orangtua, dan guru.  


Ayo belajar 

Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh. Secara istilah taat adalah tunduk dan patuh, baik terhadap perintah Allah SWT., Rasul-Nya, Orangtua, guru maupun ulil amri (pemimpin).

A. Taat kepada Allah Swt.

Allah Swt. memenuhi segala yang kita minta. Bahkan yang tidak kita minta pun Allah Swt. telah memenuhinya. Misalnya, kita tidak pernah berdoa kepada Allah Swt. agar ketika kita dilahirkan ke dunia nanti dilengkapi dengan pancaindra yang lengkap, tetapi Allah Swt. langsung memenuhinya. Masih banyak lagi rezeki dari Allah Swt. yang tidak mungkin kita sebut satu persatu.

Bagaimanakah cara taat kepada Allah Swt.? Berikut beberapa perbuatan yang bisa kita lakukan sebagai ungkapan ketaatan kita kepada Allah Swt. dan rasa syukur atas karunia rezeki yang tiada terhingga: 

  1. melaksanakan shalat di awal waktu, dan lebih utama jika dilaksanakan secara berjamaah 
  2. menjalankan puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa sunnah
  3. Berinfaq, bersedekah, dan menunaikan zakat 
  4. Selalu mengingat Allah Swt. dengan berzikir setiap saat, tidak hanya waktu selesai shalat 
  5. mempergunakan rezeki yang diterima di jalan kebaikan yang diridhai oleh Allah Swt. 
  6. berperilaku yang islami sesuai tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya. 
B. Taat kepada Rasul
1. Arti Taat kepada Rasul 
Taat kepada rasul berarti mengikuti semua ajaran yang dibawanya. Dalam hal ini adalah ajaran agama Islam. Semua rasul yang diutus Allah Swt. membawa risalah agama Islam. Setelah meyakini ajarannya, kita wajib mengikuti dan mengamalkannya. Tidak akan ada gunanya jika kita hanya meyakini, tetapi enggan untuk mengamalkanya. Misalnya, tidak mengerjakan shalat, enggan berzakat, serta tidak mau bersedekah. Sesungguhnya semua yang diajarkan para rasul merupakan perintah dari Allah Swt. Kalau tidak menaati apa yang diperintahkan rasul, berarti kita tidak menaati Allah Swt.. 
2. Cara Menaati Rasul 
Cara- cara menaati rasul, antara lain: 
  • mengetahui riwayat kehidupan para rasul, terutama Rasulullah Saw. dan ajaran yang dibawanya;
  • membenarkan berita yang disampaikan para rasul;
  • mengamalkan syariat yang dibawanya, dalam hal ini syariat Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul terakhir; 
  • mencintai dan membela para rasul, terutama Rasulullah Saw. 
  • meneladani kehidupan para rasul; 
  • menghidupkan Sunnah Rasulullah Saw. 
C. Taat kepada Orangtua 
Orangtua berjasa sangat besar terhadap hidup anak-anaknya. Andaikan harta yang dimiliki seorang anak digunakan untuk membalas jasa orangtuanya, belum tentu bisa sebanding dengan jasa dan pengorbanan orangtuanya.
Orangtua melahirkan anaknya ke dunia, merawat, mengasuh, membesarkan dan mendidiknya. Begitu besar jasa orangtua kepada anak-anaknya. Karena itu sudah sepatutnya anak berterima kasih kepada orangtuanya dengan cara berbuat baik, menghormati dan menaatinya. 

Allah Swt. berfirman: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…” (QS. Al-Isra[17]:23) Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk selalu patuh dan taat kepada kedua orangtuanya. Sebagai balas budi kita terhadap mereka maka kita harus patuh dan taat kepada mereka berdua.  

Orangtua adalah manusia yang sangat berjasa kepada kita. Beliau berdua rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. 
Berikut ini beberapa alasan mengapa kita harus patuh dan hormat kepada orangtua kita: 
 1. orangtua yang melahirkan kita 
 2. beliau berdua mengasuh anaknya sejak bayi hingga dewasa
 3. doa orangtua kita selalu tercurahkan untuk keberhasilan  
     dan kesuksesan kita 
 4. orangtua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan 
      keluarganya 
 5. Perintah Allah Swt. dan Rasulullah Saw. untuk selalu 
     berbakti kepada orangtua. 

berikut ini beberapa cara menghormati orangtua antara lain: 
  • menuruti perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama 
  • berbicara yang sopan kepada beliau berdua 
  • selalu menampakkan wajah ceria (tersenyum) di hadapan beliau 
  • rajin berdoa untuk keselamatan orangtua baik di dunia maupun di akhirat 
  • tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh orangtua
  • merawat beliau ketika sakit. 
D. Hormat dan Patuh kepada Guru

Bagaimana kita hormat dan patuh terhadap guru kita? Beberapa ciri dari sikap patuh dan taat kepada guru adalah sebagai berikut: 
 1. Sopan santun
 2. Menghargai 
 3. Taat  

Sikap hormat dan patuh tersebut dapat diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. 
Berikut adalah contoh perbuatan yang mencerminkan hormat dan patuh pada guru: 
  1. memperhatikan pengajaran yang diberikan oleh guru
  2. mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru
  3. melaksanakan segala nasihat guru 
  4. mengucapkan salam ketika berjumpa dengan guru
  5. mencium tangan guru ketika bersalaman 
  6. tidak melupakan kebaikan guru 
  7. berdiri menyambut guru 
  8. bertanya sesuatu yang belum dipahami dengan sopan
  9. tidak mendahului dan memutuskan pembicaraan. 

RANGKUMAN 
1. Allah Swt. adalah Tuhan yang wajib disembah oleh seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Alam semesta ini diciptakan oleh Allah Swt. untuk memenuhi kebutuhan manusia.
2. Rasul adalah utusan Allah Swt. Rasul yang wajib kita percayai berjumlah 25 orang rasul, dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad Saw.
3. Kita menaati rasul dengan cara melaksanakan ajaran yang beliau bawa dari Allah Swt.
4. Melalui belajar al-Qur’an dan Hadis, berarti kita menaati Rasulullah Saw..
5. Orangtua adalah manusia yang sangat berjasa kepada kita. Beliau berdua rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. Ridha Allah Swt. bergantung kepada ridha orangtua. Demikian pula kemurkaan Allah Swt. juga bergantung kemurkaan orangtua.
6. Orang yang juga sangat berjasa kepada kita adalah guru. Guru telah mendidik kita dan mengajari kita tentang banyak hal. Sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan pintar. Itulah salah satu alasan kita harus menghormati guru.

Jumat, 13 Oktober 2023

Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas 6 Pelajaran 4 Sunan Bonang

PETA KONSEP 

Pelajaran 4 Sunan Bonang mencakup tiga pembahasan, yaitu:

A. Biografi

Sunan Bonang, nama aslinya Mahdum Ibrahim, putra keempat Sunan Ampel dari pernikahannya dengan Nyi Ageng Manila, putri Arya Teja, Bupati Tuban. Tokoh ini diperkirakan lahir pada tahun 1465. Silsilah keluarganya bersambung dengan Rasullah Saw lewat ayahnya, Sunan Ampel, sampai ke Saydina Husein bin Ali dan Fatimah putri Nabi Muhammad Saw. 

Raden Mahdum Ibrahim belajar ilmu agama lansung kepada ayahnya, Sunan Ampel. Nyantri di Pesantren Sunan Ampel bersama Raden Paku, Raden Patah dan Raden Kusen . Ia juga mengeyam pendidikan agama di Aceh, berguru kepada Syaikh Maulana Ishak sewaktu singgah saat akan melakukan perjalanan haji ke tanah suci Makkah. Kecendrungan terhadap seni dan sastra membuatnya banyak belajar kesenian dan budaya Jawa, tentang kesusatraan Jawa, tembang-tembang jenis majapat yang populer masa itu kepada ibunya, seorang putri Bupati Tuban yang banyak memahami sastra Jawa. 

Mengawali dakwahnya, Raden Mahdum Ibrahim memasuki pedalaman Kediri, Jawa Timur, dengan mendirikan langgar ( mushalla) di tepi barat sungai Brantas, desa Singkal, Kabupaten Nganjuk. Gaya dakwah yang keras, seperti merusak arca yang dipuja penduduk menimbulkan konflik dan banyak tokoh yang memusuhi Sunan Bonang, terutama tokoh-tokoh ajaran Bhairawa-Tantra, Ki buto Lucoyadan Nyai Plencing. Dakwah Sunan Bonang belum mencapai keberhasilan, masyarakat Kediri masih belum menerima Islam hingga datang masanya Sunan Prapen tahun 1551 M. Kegagalan dakwah Sunan Bonang di kediri, mengantarkannya pindah ke Demak atas panggilan Raja Demak, Raden Patah, yang mengangkatnya sebagai imam Masjid Demak. 

Namun tidak lama kemudian ia melepaskan jabatan sebagai imam , kemudian pindah ke Lasem dan mendirikan sebuah zawiyah, tempat khusus untuk beribadah, dan digunakan juga oleh para pengamal tasawuf sebagai tempat khalwat. Kemudian Pada usia 30 tahun, Sunan Bonang dijadikan Wali Negara Tuban yang mengurusi berbagai hal yang menyangkut agama Islam.

B. Peran Sunan Bonang dalam Mengembangkan Islam di Indonesia.

Dalam melakukan dakwah Islam di daerah Jawa, Sunan Bonang punya peran penting dalam pengembangan syiar Islam, yaitu:

1. Mengembangkan dakwah Islam lewat seni dan budaya

Keahlian dan kemampuan Sunan Bonang memahami sastra jawa dan tampil sebagai dalang, turut berperan melakukan penyempurnaan dalam bertunjukan sbb:

a). meyempurnakan susunan gamelan

b). menambahkan lagu-lagu,

c). menambahkan ricikan, seperti ricikan kuda, gajah, harimau, garuda, kreta perang, dan rampongan)

d). menggubah tembang-tembang Jawa dan membuat berbagi jenis gending.

e). Penemu alat musik bonang

2. Memasukkan nilai-nilai keislaman pada tradisi masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa mengenal ritual pancamakara dalam ajaran tantrayana, yaitu sebuah upacara yang dilakukan dengan duduk mengelilingi makanan. Di tengah-tengah duduk seorang Cakreswara (imam) sebagai pemimpinya membacakan mantra-mantra.

Melihat tradisi yang dilakukan masyarakat saat itu, Sunan Bonang mengisi tradisi ini dengan upacara kenduri atau selamatan dengan doa-doa Islam. Sebutan Anyakrawati (pemimpin lingkaran cakra) diberikan kepada Sunan Bonang karena ikut meneruskan tradisi dan mengubah isinya bernilai ajaran Islam. 

3. Menyebarkan dakwah melalui karya Sastra Suluk Wujil

Sunan Bonang juga menulis tentang pengetahuan taswuf yang lebih mendalam yaitu karyanya berjudul Suluk Wujil, yang ditulis dalam sastra Jawa, berbentuk tembang. Karya ini masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. 

C. Sikap Positif dalam Pribadi Sunan Bonang

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Bonang patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan.

1. Penyebar Islam yang gigih dan ulet

2. Seniman kreatif dan inovatif dalam mengembangkan media dakwah

3. Toleran dalam dakwah


RANGKUMAN 

 Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang adalah putra keempat Sunan Ampel. Silsilah Keluarganya bersambung dengan Rasullah Saw. dari jalur Saidina Husen bin Ali dan Fatimah putri Rasulullah Saw.

 Belajar ilmu agama di Pesantren Sunan Ampel dan memperdalam ilmunya kepada pamannya Syekh Maulana Malik Ibrahim, di Aceh.

 Berperan mengembangkan Islam di Indonesia, melalui;

- Seni pertunjukan wayang, gamelan dan menciptakan alat musik bonang

- Islamisasi tradisi masyarakat dengan memberikan nilai-nilai keislaman, seperti ritual pancamakara menjadi kenduri atau slametan

- Karya sastra suluk wujil berisi tembang-tembang Jawa yang berisi pesan agama

 Sikap positif dalam pribadi Sunan Bonang tercermin dalam pribadi sbb:

-Sosok seniman kreatif dan inovatif dalam mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan sastra

-Gigih dan ulet dalam menjalankan dakwah Islam

-Toleran dan bijaksana dalam mengembangkan islam di Indonesia


Selasa, 10 Oktober 2023

RASULULLAH SAW MENJAGA PERDAMAIAN DALAM PERISTIWA FATHU MAKKAH

Materi pelajaran SKI kelas 5 BAB IV

RASULULLAH SAW MENJAGA PERDAMAIAN DALAM PERISTIWA FATHU MAKKAH 

Setelah Rasulullah Saw.dan para sahabat nya yang berjumlah sekitar 10.000orang berhasil memasuki kota Makkah dengan aman, maka Rasulullah Saw.memimpin pembenahan kota Makkah. Dalam melakukan pembenahan diKota Makkah, Rasulullah Saw. bersikap santun. Hal ini ditunjukkan oleh: 

Pertama : Rasulullah Saw Memaafkan Penduduk Makkah, Sesampainya dikotaMakkah, Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat mendirikan tenda lengkung, berbentuk kubah, tidak jauh dari makam Abu Talib dan sayyidah Khadijah. Kemudian Rasulullah Saw. masuk kedalam kemah lengkung tersebut dan beristirahat seraya mengungkapkan rasa syukur. Rasulullah Saw. bersyukur kembalike Makkah dengan terhormat. Beliau teringat kota Makkah dulu penduduk nya telah  mengganggu dan mengusirnya dari keluarga dan kampung halamannya. Rasulullah Saw. melepaskan pandangan nya kelembah wadi dan gunung-gunung yang ada di sekelilingnya. Gunung-gunung, tempat Rasulullah berkhalwat untuk menenangkan diri atas perlakuan kasar kafir Quraisy. Di gua Hira daerah pegunungan itu pula, beliau menerima Wahyu yang pertama.

Kemudian Rasulullah Saw. bertanya kepada penduduk Makkah: "Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kalian, apa yang akan aku perbuat terhadap kalian sekarang?" 

Kaum Quraiys pun menjawab: “Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah." 

Rasulullah Saw. kemudian bersabda : "Pergilah kamu sekalian, Kalian sekarang sudah bebas!” 

Rasulullah Saw. kemudian membaca surat Yusuf ayat 92

قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

Artinya: “Dia (Yusuf)berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampunikamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang "

Dengan sabda Rasulullah Saw tersebut, maka seluruh penduduk Makkah mendapatkan pengampunan umum (amnesti). Rasulullah Saw. bersikap santun dengan memaafkan kesalahan penduduk Makkah dimasa lalu.

Rasulullah menunjukkan kepada seluruh dunia sikap memaafkan setelah memperoleh kemenangan. Rasulullah Saw. benar-benar teguh pada prinsip dan menepati janjinya yakni akan membuat kota Makkah aman. Sikap ini sebelumnya tidak pernah dimiliki dalam sejarah penguasa yang memperoleh sebuah kemenangan. 

kaum muslimin tidak mengikuti langkah Rasulullah Saw. dengan penuh lapang dada memafkan penduduk Makkah, menerimanya sebagai saudara bagi yang masuk Islam, dan melupakan kesalahan-kesalahan masa lalu. Sikap ini sangat luhur dan patut dicontoh oleh sekalian bangsa, manusia yang mempunyai akal sehat dan perasaan perikemanusiaan yang peka.

Pemaaf adalah bukti keimanan kepada Allah. Karena dengan pemaaf berarti meniru sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya yang sangat bijaksana, mentaati perintah-Nya dan menjadikan Rasul sebagai teladan. Rasululah Saw. tidak pernah mengajarkan balas dendam, sebaliknya menekankan sikap lapang dada dan pemaaf.

Kedua : Rasulullah Membersihkan Berhala di Ka’bah

Rasulullah Saw. kemudian memasuki Ka'bah. Beliau menyaksikan dinding- dinding Ka'bah sudah penuh lukisan-lukisan malaikat dan para nabi. Di antaranya adalah lukisan Nabi Ibrahim a . s . yang memegang panah untuk mengadu nasib (azlam). Ada juga sebuah patung burung dari kayu. Kemudian beliau menghancurkan patung tersebut.

Ketika melihat gambar Nabi Ibrahim, Rasulullah Saw. tertegun sejenak lalu bersabda: “mudah-mudahan Allah Swt. membinasakan orang-orang yang membuat lukisan ini!

Orang tua kita Nabi Ibrahim a.s. digambarkan mengundi nasib. Apa hubungannya Nabi Ibrahim dengan azlam'? Ibrahim bukan orang Yahudi, juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

Sedang malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita cantik, gambar-gambar itu oleh Rasulullah Saw disangkal sama sekali, sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan perempuan.

Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu dihancurkan. Patung-patung berhala di sekitar K’abah yang berjumlah 360 buah dihancurkan. Dengan tongkat di tangan, Rasulullah Saw. menunjuk kepada berhala-berhala tersebut seraya membaca firman Allah SWT surat al-Isra’ ayat 81:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Artinya: "Dan katakanlah : yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap." (Qur'an, 17: 81)

Rasulullah Saw. berhasil membersihkan Ka’bah dari berhala. Berhala-berhala tersebut tidak bisa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong kaum kafir Makkah. Berhala tidak dapat memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya. Karena itu, berhala tidak layak disembah. Siapa yang menyembah berhala berarti telah berbuat syirik dan tersesat. 

Kemudian, Rasulullah Saw. memerintahkan sahabat Bilal mengumandangkan azan dari atas Ka'bah. Sebagian penduduk Makkah kaget, karena sebelumnya tidak mengetahui sahabat Bilal terbiasa mengumandangkan azan. Sebagian mereka berkata: "Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?” 

Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat, berikut ini: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Tetapi orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah orang yang paling takwa (menjaga diri dari kejahatan). Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengerti." (Qur'an, 49: 13)

Ketiga : Rasulullah Saw. Menjaga Kehormatan Penduduk Makkah

Peristiwa kemenangan atas kota Makkah tersebar luas ke seluruh dunia Arab. Para saudagar yang melewati Makkah mengetahui dengan mata kepala mereka bahwa kaum muslimin tidak melakukan pertumpahan darah. Kaum muslimin yang selama ini dicaci maki, diejek, disiksa, diancam mau dibunuh, bahkan berulangkali diperangi oleh kaum kafir Makkah tidak membalas dendam. Padahal, kekuatan kaum muslimin sudah berhasil masuk ke kota Makkah. Tetapi mereka ta’at sepenuhnya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah dan Rasulullah Saw. mengajarkan kedamaian, melarang dendam kesumat, memaafkan kesalahan antar sesama manusia, melindungi kaum yang mau menyerah, menghormati hak-hak manusia, menjaga akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari hal yang melampaui batas. Rasulullah Saw. benar-benar menjaga kehormatan penduduk Makkah.

Penduduk yang tertaklukkan diperlakukan dengan santun sehingga menunjukkan kemuliaan ajaran Islam. Masa peperangan sudah berakhir. Kaum muslimin diperintahkan melakukan dakwah di Makkah dengan damai. Melanjutkan dakwah Islamiah kepada penduduk Makkah yang masih kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Kaum muslimin membangun peradaban baru di Makkah dengan menekankan ukhuwah Islamiah, kedamaian, keadilan, musyawarah, saling menyayangi dan menolong, serta melindungi sesama. Kebiasaan-kebiasaan saling membunuh dan berperang mereka tingalkan. Makkah memulai hidup baru di bawah panji-panji Islam dan sinaran hidayah Allah SWT.

Setelah lima belas hari Makkah, Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Pada mulanya kaum Ansar khawatir Rasulullah Saw. akan terus tinggal di Makkah, namun Rasulullah Saw mengetahui kekhawatiran itu dan bersabda: "Berlindunglah kita kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kamu." Rasulullah Saw. setia dengan baiat Aqabah dan kembali ke Madinah dan tinggal di Madinah sampai akhir hayat.

RANGKUMAN 

  1. Peristiwa fathu Makkah memberikan keteladanan Rasulullah Saw. dalam menjaga perdamaian. Rasulullah Saw bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Rasulullah Saw. menunjukkan kepada seluruh dunia sikap memaafkan setelah memperoleh kemenangan. Rasulullah Saw. benar-benar teguh pada prinsip dan menepati janjinya yakni akan membuat kota Makkah aman. Sikap ini sebelumnya tidak pernah dimiliki dalam sejarah penguasa yang memperoleh sebuah kemenangan.
  2. Saat fathu makkah, Rasulullah Saw memasuki Ka'bah. Beliau menyaksikan dinding-dinding Ka'bah sudah penuh lukisan-lukisan malaikat dan para nabi. Di sekitar Ka’bah juga banyak berjejer berhala. Rasulullah Saw menghancurkan berhala-berhala tersebut. 
  3. Meskipun memperoleh kemenangan, Rasulullah mengajarkan kedamaian, melarang dendam kesumat, memaafkan kesalahan antarsesama manusia, melindungi kaum yang mau menyerah, menghormati hak-hak manusia, menjaga akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari hal yang melampaui batas. Rasulullah Saw. benar-benar menjaga kehormatan penduduk Makkah. Penduduk yang tertaklukkan diperlakukan dengan santun sehingga menunjukkan kemuliaan ajaran Islam.

Jumat, 01 September 2023

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 6 BAB II

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 6 BAB II 

SUNAN AMPEL (W. 1479M)



A. Biografi Sunan Ampel
1. Silsilah

    Sunan Ampel, dikenal dengan Raden Rahmat, nama aslinya Sayid Ali Rahmatullah, ayahnya bernama Syekh Ibrahim As-Samarqandi, seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Ibunya seorang putri raja bernama Candrawulan dari kerajaan
Campa, Kamboja. Sedangkan silsilah keturunannya bersambung sampai Rasulullah Saw. melalui jalur Husen bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Saw.

2. Kedatangan di pulau Jawa

Kedatangannya ke pulau Jawa diperkirakan tahun 1440 M, atas undangan Prabu Sri Kertawijaya (w. 1451 M) Raja Kerajaan Majapahit bersama ayah dan saudara tuanya Ali Murtadho, dan Raden Burereh yang sebelumnya tinggal di Campa. Mereka datang bersama sejumlah kerabat.  untuk memperbaiki prilaku masyarakat Majapahit yang konon saat itu mengalami kemunduran dan kemerosotan moral. Kedatangan rombongan ke Majapahit juga dikarenakan adanya hubungan keluarga antara ibunya dan istri Sri Prabu Kertawijaya, Dewi Darawati, yang berasal dari Campa.

3. Menikah dengan keluarga Kerajaan

Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban yang juga cucu Arya Lembu Sura, Raja Surabaya yang muslim. Dari pernikahannya, lahir anak dan cucu yang menjadi generasi penerus dakwahnya dalam menyebarkan Islam. Begitu pula hubungan kekerabatannya dengan penguasa Surabaya, Arya Lembu Sura, pada gilirannya membawa Raden Rahmat menjadi bupati, penguasa Surabaya. 

B. Peran Sunan Ampel dalam Mengembangkan Islam di             Indonesia.

Dalam melakukan dakwah Islam di daerah Jawa, Sunan Ampel punya peran penting dalam pengembangan syiar Islam, yaitu:

a. Membentuk Jaringan Kekerabatan Dalam Menyebarkan Islam, dengan membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa kerajaan Majapahit. 

b. Melakukan Perubahan Menuju Tradisi Bernilai Keislaman. Sunan Ampel membawa ajaran Islam yang disampaikan dengan cara-cara damai, moderat, toleran dan menyesuaikan tradisi masyarakat yang telah ada mengandung nilai-nilai Islam. sraddha, sebuah upacara peringatan atas kematian seseorang pada tahun ke-12. Setelah kedatangan penyiar Islam Campa yang dipelopori Sunan Ampel, penduduk Majapahit mulai memperingati tradisi kenduri, dan memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000. Dalam prakteknya, masyarakat berkumpul mendatangi keluarga yang ditinggal, lalu acara tersebut diisi dengan zikir, tahlil dan doa.

c. Membangun Masjid dan Pesantren Sebagai Pusat                       Penyebaran Islam, Masjid Ampel merupakan bangunan tempat ibadah yang menyimpan nilai sejarah. Arsitektur masjidnya memadukan arsitektur Hindu Budha dan khazanah Islam untuk kepentingan dakwah. Model atap tumpang pada masjid menggambarkan adanya akulturasi budaya Islam dan Hindhu-Budha. Tiang-tiang masjid masih kokoh hingga sekarang. Sunan Ampel juga membangun pesantren, tempat mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an, syariat dan tasawuf. Di tempat ini pula, ia mengkader para santri-santri yang akan melanjutkan dakwah Islam, diantaranya: Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, Sunan Derajat dan tokoh-tokoh lainnya.

Ajaran sunan Ampel yang banyak dikenal adalah falsafah limo atau tidak melakukan lima hal: 
a) moh main atau tidak berjudi, 
b) moh ngombe atau tidak mabuk-mabukan,
c) moh maling atau tidak mencuri, 
d) moh madat atau tidak mengisap candu, dan
e) moh madon atau tidak berzina.

C. Sikap Positif Dalam Pribadi Sunan Ampel

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Ampel patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan. Diantaranya:

1. Berdakwah dengan santun penuh kearifan, dengan tanpa caci maki terhadap pendapat dan agama lain.

2. Toleran dan selalu menjalin hubungan baik dengan semua kalangan. 

3. Sosok pemimpin yang merangkul tanpa memandang kasta dan jabatan. 

4. Seorang guru yang mendidik dengan penuh keihklasan dalam menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya, sehingg lahir generasi penyebar Islam ke penjuru Nusantara.

Hikmah

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [perkataan yang tegas danbenar)] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. ...( QS.Al-Nahl : 125)

Senin, 28 Agustus 2023

Aqidah Akhlak Kelas 6 semester 1 Mengenal Allah SWT melalui Asmaul Husna

Tujuan Pembelajaran

1. Melalui kegiatan pengamatan, siswa dapat memahami makna al-Ghaffaar dan al-'Afuww dengan benar.

2. Melalui kegiatan berdiskusi, siswa dapat menyajikan arti dan bukti sederhana al-Ghaffaar dan al-'Afuww dengan tepat.

Kali ini kita akan lebih mengenal Allah Swt. melalui asmaul husna Ghaffar dan al-‘Afuww.

Sebelum kalian belajar materi tersebut, mari kita lafadz kan doa belajar.

الْغَفَّارُ

Al-Ghaffar berasal dari kata “ghafara”, yang berarti menutupi. Makna nya Allah Swt. Maha Pengampun. Allah Swt. menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan keluasan ampunan-Nya. Selain itu, al-Ghaffar juga dapat berarti Allah Swt. menganugerahkan sifat penyesalan kepada hamba-hamba-Nya sehingga bisa menjadi obat penawar sekaligus penghapusan dosa.

Al-Qur’an menyebut kata “Ghaffar” sebanyak lima kali, tiga kali berdiri sendiri sebagaimana terungkap dalam QS. Nuh (71: 10) dan QS. Thaha (20: 82), sedang dua kali lainnya dirangkai setelah penyebutan sifat dan nama indah lainnya, yaitu al-Aziz.

"Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas maghfirah-Nya." (QS. At-Taubah: 117).

Kemudian 

وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى.        

Artinya: “Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk”. (QS. Thaha [20]: 82).

dosa itu adalah kegelapan. Dosa itu adalah sesuatu yang mengganggu pikiran dan hati. Perasaan tidak tenang dan selalu merasa bersalah adalah bagian dari tanda bahwa kita melakukan perbuatan dosa, apapun bentuk perbuatan dosa tersebut. 

Nah, kalau dosa diampuni maka hati menjadi tenang dan pikiran menjadi terang, ketika itulah berarti Allah Swt. telah mengobati seseorang yang sedang risau hatinya karena dosa-dosa yang dilakukannya.

Tidak cukup Allah Swt. mengampuni dosa-dosa tersebut, tapi Allah Swt. juga menutupi kesalahan-kesalahan kita. Alangkah banyaknya orang yang berdosa di dunia ini, alangkah banyaknya orang yang berbuat maksiat, tetapi Allah Swt. menutupi aib-aib itu, agar tidak diketahui yang lainnya.

Allah Swt. menutupi keburukan kita adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri. Allah Swt. menutupi dosa-dosa adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat, memohon ampunan-Nya. Allah Swt. menutupi kesedihan kita adalah kesempatan bagi kita untuk tidak berputus asa terhadap pertolongan-Nya. Allah Swt. Tuhan Maha Pengampun.

Allah Swt. memerintahkan kita untuk meneladani dan membiasakan makna al-Ghaffar dalam kehidupan kita, di antaranya dengan cara:

1. memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti dan berbuat kesalahan kepada kita 

2. menghilangkan kebencian dan dendam di dalam hati

3. menghindarkan diri dari berprasangka buruk, 4. tidak mencari-cari kesalahan

5. tidak membuka aib orang lain

6. tidak menggunjing, memfitnah, atau menyakiti orang lain.

العَفُوُّ 

Secara bahasa kata al-’Afuww berarti menghapus, menghilangkan sampai akar, dan memaafkan. Sebagai nama Allah Swt., maka al-’Afuww berarti yang Maha Pemaaf.

Memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Allah Swt. memaafkan dengan menghapus dan menghilangkan dosa-dosa hamba-Nya sampai ke akar dengan tidak menimpakan hukuman atau sanksi kepadanya. Allah Swt. memberikan maaf kepada siapa pun yang dikehendaki. Sungguh, Allah Swt. telah memaafkan begitu banyak kesalahan hamba-Nya, tanpa mereka meminta. Karena jika tidak dimaafkan, manusia sudah pasti binasa dengan setiap dosa yang dilakukannya. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’an Surah al-Hajj ayat 60:

ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ

Artinya: Demikianlah dan barang siapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.

Allah Swt. maha memaafkan orang-orang yang berbuat dosa dengan tidak menyegerakan sikasaan bagi mereka, serta mengampuni dosa-dosa mereka. Inilah sifat Allah Swt. yang tetap dan terus Maha Mulia, dan inilah kemurahan Allah Swt. kepada hamba- Nya di setiap waktu, dengan memaafkan dan mengampuni.

Seorang hamba yang meneladani nama dan sifat al-’Afuww, pasti akan selalu memohon ampun kepada Allah Swt. dari setiap kesalahan yang dilakukan setiap saat dan di manapun berada. Dia juga selalu memaafkan kesalahan orang lain, bahkan sebelum diminta, pasti telah memaafkan. Dia tidak mudah marah dengan perilaku buruk orang lain.

Memberi maaf kepada orang lain yang berbuat salah merupakan sifat kemuliaan.

Siapapun yang dapat membiasakannya akan memperoleh kemuliaan dari Allah Swt. yaitu memperoleh pahala yeng besar dan terhindar dari berbagai macam kesulitan hidup, seperti sulit untuk belajar, sulit bergaul, perasaan takut dan sejenisnya.

Perbedaan al-Ghaffar dan al-’Afuww

Baik al-Ghaffar dan al-Afuww memiliki makna mengampuni atau memaafkan.

Namun al-'Afuww memiliki arti lebih dalam daripada al-Ghaffar. Al-Ghaffar Allah maha pemberi maghfirah. Maghfirah adalah ampunan dosa tapi dosa itu masih ada. Dosa tersebut ditutupi oleh Allah Swt. di dunia dan di akhirat dari pandangan makhluk.

Sehingga Allah Swt. tidak menyiksa seseorang dengan dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada.

Adapun al-‘Afuww Allah maha pemberi maaf. Dengan al-‘Afuww Allah Swt. telah menghapuskan dan menghilangkan dosa yang dilakukan hambanya seperti tidak pernah melakukan kesalahan. Jadi pemberian ma’af lebih istimewa.

Boleh jadi kita melakukan dosa-dosa kecil, seperti tidak banyak ibadah, maka di padang mahsyar akan mendapati Allah Swt. sebagai Maha Pengampun. Dosa-dosa itu akan diperlihatkan dan disuruh mengakuinya. Berbeda jika kita melakukan dosa, lalu bertobat, giat ibadah, maka di padang mahsyar kita memperoleh maaf. Maka Allah Swt.yang Maha Pemaaf, tidak lagi menyebutkan kesalahan-kesalahan kita, karena sudah dihapuskan.

Hikmah al-Ghaffar dan al-’Afuww

Seorang muslim yang meyakini dengan sungguh-sungguh dan meneladani sifat pengampun (al-Ghaffar) dan pemaaf (al-Afuww) Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari secara ikhlas akan memperoleh hikmah antara lain:

a. Mudah memaafkan kesalahan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. 

b. Terdorong untuk terus membaca istigfar, yakni meminta ampun kepada Allah Swt. baik berbuat salah maupun tidak.

c. Tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah Swt., 


Selasa, 22 Agustus 2023

Upaya Nabi Muhammad Saw menegakkan kesepakatan dengan non Muslim

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 5 BAB II

Upaya Nabi Muhammad Saw menegakkan kesepakatan dengan non Muslim 

Negara kita penduduknya beraneka ragam agama, suku, adat istiadat, dan bahasa. Ada yang beragama Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Ada juga yang menganut aliran kepercayaan. Saudara kita sebangsa setanah air juga berasal dari berbagai macam suku, di antaranya ada suku Jawa, Dayak, Madura, Sunda, Minang, Batak, Melayu, Serawai, dan Betawi. Semuanya diikat menjadi satu kesatuan, Indonesia. Karenanya, slogan negara kita adalah Bhineka Tunggal Ika. Islam merupakan agama mayoritas. 

Umat Islam Indonesia mengikuti ajaran Rasulullah Saw. yakni menghormati keyakinan agama lain dan menghargai perbedaan suku dan adat istiadat. Keteladanan Rasulullah tersebut tercermin pada tindakan Rasulullah Saw. memimpin Madinah yang menjalin kesepakatan dengan nonmuslim.

1. Kesepakatan Perdamaian (Piagam Madinah)

Piagam Madinah adalah kesepakatan antara umat Islam dan nonmuslim untuk hidup berdampingan dengan rukun dan damai diMadinah. 
Masing-masing pemeluk agama menjalankan agamanya dan harus saling menghormati. Mereka hidup dalam satu kesatuan meskipun beragam agama dan sukunya. 
Piagam Madinah merupakan dokumen yang menghargai hak-hak asasi manusia dan menjadi dasar hidup bermasyarakat yang harus ditaati semua pihak. Karena itu,
Piagam Madinah menjadi dasar aturan (konstitusi) pertama di dunia. Kesaktian Piagam Madinah yang memancar melalui pasal demi pasal yang terkandung di dalamnya,
mampu mendamaikan dan mengikat berbagai kelompok suku dan golongan dalam masyarakat Madinah, serta menyatukan umat Islam pendatang dari Makkah dengan penduduk asli
Madinah secara umum.
Di antara isi Piagam Madinah, di antaranya adalah:
  • Semua kelompok yang menandatangani piagam merupakan suatu bangsa.
  • Masing-masing kelompok bebas menjalankan ajaran agamanya tanpa campur tangan kelompok lain
  • Bila salah satu kelompok diserang musuh, maka kelompok lain wajib untuk membelanya Kewajiban penduduk Madinah, baik kaum Muslimin, nonmuslim, ataupun bangsa Yahudi, harus saling bantu membantu moril dan materiil.
  • Mereka harus saling menasehati, berbuat baik dan tidak boleh berbuat jahat.
  • Nabi Muhammad adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah dan dia menyelesaikan masalah yang timbul antar kelompok.
2. Komitmen Damai Rasulullah Saw. Dengan Kafir Quraisy
    (Perjanjian Hudaibiyah)

Pada tahun ke-6 (enam) hijriah, Rasulullah Muhammad Saw. bermaksud ke Makkah untuk melakukan ibadah haji ke Ka’bah beserta 1.400 orang kaum muslimin.
Kedatangan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya ini diketahui oleh kaum kafir Makkah. Mereka kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid  menghadang kaum muslimin di tengah jalan. Namun pasukan tidak berhasil menemukan Rasulullah Saw dan sahabat -sahabatnya, karena Rasulullah Saw mengunakan jalan lain menuju Makkah.
Rasulullah Saw. pun mengumpulkan sahabat di bawah pohon dan menanyakan kesediaan mereka untuk selalu setia bersama Rasulullah Saw. dan tidak akan meninggalkan beliau. Peristiwa ini disebut baiat ridwan. Para sahabat bersumpah setia membela Rasulullah Saw sampai titik darah penghabisan.
Rasulullah Saw. lebih cinta damai daripada peperangan. Dan Rasulullah Saw. yakin bahwa keimanan para sahabatnya
sudah kuat sehingga tidak terpengaruh

Akhirnya disepakati perjanjian damai antara Rasulullah Saw. dan kafir Quraisy Makkah. Perjanjian ini dikenal dengan nama “Perjanjian Hudaibiah”.
Adapun isi perjanjian Hudaibiah adalah sebagai berikut:
  • Peletakan senjata antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun
  • Orang Quraisy muslim yang datang kepada kaum muslimin dengan tidak seizin walinya hendaklah ditolak kaum muslimin.
  • Barangsiapa yang hendak membuat perjanjian dengan Muhammad diperbolehkan, begitu juga siapa yang membuat perjanjian dengan Quraisy dibolehkan.
  • Kaum muslim tidak mengerjakan umrah di tahun ini, akan tetapi ditangguhkan sampai tahun depan. Di tahun depan kaum muslimin memasuki kota Makkah sesudah Quraisy keluar. Kaum muslimin measuki kota Makkah tidak boleh membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan mereka tidak boleh tinggal di kota Makkah lebih dari tiga hari tiga malam. 
3. Nabi Saw. Menjalin Komunikasi dengan Raja-raja                          Nonmuslim.

Setelah disepakatinya perjanjian Hudaibiah, Rasulullah Saw. mempunyai kebebasan menjalin komunikasi dengan raja-raja di Jazirah Arab tanpa halangan dari kaum kafir Makkah. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Rasulullah Saw. Beliau gencar mengirim utusan ke raja-raja nonmuslim di Jazirah Arab dan sekitarnya seperti ke raja Habasyah (Najasy), Ghassan, kaisar Romawi (Heraklius), kaisar Persia, dan Gubernur Mesir (Muqauqis).

📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖

Berikut ini adalah upaya yang dilakukan nabi Muhamad Shalallahu Alaihi Wassalam dalam menegakkan kesepakatan dengan non Muslim yaitu:

  • Membuat perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah dalam mempertahankan kota Madinah yang kemudian dikenal dengan "Piagam Madinah"
  • Perjanjian Hudaibiyah yang dibuat antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy yang terjadi pada tahun ke 6 Hijriyah ketika nabi akan berumrah dengan para sahabat ke kota Mekah.
Nabi dan kaum Muslimin memegang teguh setiap perjanjian, namun baik itu piagam Madinah dan Perjanjian Hudaibiyah dikhianati kaum kafir. Sehingga nabi menegakkan hukum di atas mereka yaitu dengan mengusir kaum Yahudi dari tanah Madinah dan tidak mau memperbaharui perjanjian Hudaibiyah.

Senin, 14 Agustus 2023

SKI BAB I KELAS 6

 Soal SKI Kelas VI Bab 1 Maulana Malik Ibrahim

Sebelum masuk ke contoh soal, silahkan baca dulu Rangkuman SKI kelas VI Bab 1 Maulana Malik Ibrahim berikut ini.

Rangkuman SKI Kelas 6 Bab 1 Maulana Malik Ibrahim

1) Sunan Maulana Malik Ibrahim, atau Sunan Gresik, berasal dari Kashan, Persia. Datang ke pulau Jawa abad ke-14 tahun 1371 M untuk menyebarkan agama Islam 

2) Penyebaran Islam dilakukan melalui jalur perdagangan dimulai dari masyarakat pesisir pantai utara, dan menjalin hubungan dagang dengan Majapahit.

3) Maulana Malik Ibrahim diangkat sebagai syahbandar di Gresik dan dijadikan sebagai penasehat kerajaan Majapahit.

4) Diantara peran penting Sunan Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan Islam di Indonesia, yaitu:

- Menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan

- Mendakwahkan Islam kepada keluarga kerajaan Majapahit

- Membangun masjid dan pesantren sebagai pusat dakwah Islam


Soal SKI Kelas VI Bab 1 Maulana Malik Ibrahim + Kunci Jawabannya


Jawablah soal-soal berikut ini dengan jawaban yang benar dan tepat!

1. Siapakah tokoh penyebar Islam yang disebut Wali Songo !

Jawaban:

Wali Songo berasal dari kata wali dan songo atau sanga, berarti sembilan wali. Istilah Wali Songo dikaitkan dengan lembaga dakwah yang berisi tokoh-tokoh penyebar Islam dalam usaha mereka mengembangkan Islam secara terorganisasi pada abad ke-15 dan 16 masehi.

Para penyebar Islam yang disebut wali songo yaitu: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

2. Mengapa Maulana Malik Ibrahim mudah diterima masyarakat Jawa?

Jawaban:

Dalam perjuangannya menyebar dan mengembangkan dakwah Islam di Nusantara khususnya tanah Jawa, Sunan Maulana Malik Ibrahim menyampaikan ajaran Islam melalui sikap positif yang dapat diteladani, diantaranya:

1. Melakukan dakwah secara bertahap atau tadriji. Dalam dakwahnya, Sunan Maulana Malik Ibrahim mengajarkan agama Islam secara bertahap, tidak ada ajaran agama yang diberlakukan secara mendadak, semuanya melalui proses penyesuaian. 

2. Gigih dan tangguh dalam berdakwah. Kegigihan dan ketangguhan dalam menyebarkan agama Islam terbukti dari perjalanan jauh, merantau dari tanah kelahirannya Kashan (sekarang masuk wilayah Iran) menuju tanah Jawa melalui jalur laut yang melelahkan.

3. Santun dan dermawan dalam berdakwah. Sikap ini ditunjukkan ketika berdagang dengan menggelar pasar murah, dan selalu berbagi kepada fakir miskin. Kekayaaannya diperuntukkan untuk berdakwah di jalan Allah Swt

4. Toleran dan selalu menjalin hubungan baik antar-sesama. Hubungan baik yang ditunjukkan pada masyarakat luas dan penguasa Majapahit menjadikannya sosok guru yang dibanggakan dan menghantarkannya diangkat menjadi penasehat raja dan menteri Kerajaan Majapahit pada masanya.


3. Bagaimana upaya Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan ?

Jawaban:

Maulana Malik Ibrahim memulai aktivitas dakwahnya dengan berdagang di tempat terbuka yang berlokasi di desa Rumo, dekat pelabuhan. Ia menyediakan kebutuhan-kebutuhan pokok dengan harga murah dan terjangkau oleh masyarakat. 

Pergaulannya yang didasari akhlak mulia penuh keramahan, kesantunan, dan toleran dalam keseharian, menjadikan masyarakat mudah tertarik untuk memeluk agama Islam. 

Pilihan lokasi dakwah dekat pelabuhan, berhubungan erat dengan aktivitas dagang yang berada di daerah pesisir pantai yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. 

Dengan demikian Maulana Malik Ibrahim banyak berinteraksi dengan para pedagang yang berada di wilayah Jawa dan daerah lainnya. 


4. Apa peran penting Maulana Malik Ibrahim dalam meyebarkan Islam di Indonesia ?

Jawaban:

Diantara peran penting Sunan Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan Islam di Indonesia, yaitu:

- Menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan

- Mendakwahkan Islam kepada keluarga kerajaan Majapahit

- Membangun masjid dan pesantren sebagai pusat dakwah Islam


5. Mengapa seorang dai harus santun dan toleran dalam berdakwah? 

Jawaban:

Agar mudah diterima dan untuk menunjukkan keindahan Islam sehingga Islam benar-benar dirasakan membawa Rahmat untuk alam semesta (rohmatan lil 'alamin)


Untuk menambah wawasan Ananda semuanya silahkan baca materi dibawah ini yang dikutip dari buku SKI kelas 6

Islam Masuk ke Nusantara dan Wali Songo

Agama Islam masuk ke Nusantara,tepatnya di pulau Jawa diperkirakan abad ke-7 M sekitar tahun 674 M hingga 1433 M. Dalam rentan waktu sekitar delapan ratus tahun agama Islam belum tersebar luas, dan hanya dianut oleh sebahagian kecil penduduk Nusantara, meskipun para saudagar muslim sudah mulai berdatangan sejak 674 M membangun jalur hubungan dagang, namun meluasnya Islam ke berbagai pelosok Nusantara setelah kemunculan para penyebar Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. 


Wali Songo berasal dari kata wali dan songo atau sanga, berarti sembilan wali. Istilah Wali Songo dikaitkan dengan lembaga dakwah yang berisi tokohtokoh penyebar Islam dalam usaha mereka mengembangkan Islam secara terorganisasi pada abad ke-15 dan 16 masehi. Para penyebar Islam yang disebut wali songo yaitu: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Para mubalig ini menyebarkan Islam dengan cara-cara damai, santun, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan adat-adat lokal penduduk Nusantara sehingga ajaran Islam diterima baik oleh masyarakat.


Di luar Jawa, pada abad ke-17 dan 18 muncul para tokoh yang 

mempunyai peran dalam mengembangkan Islam, seperti; Hamzah al-Fansuri (w. 

1590), Syekh Nuruddin Al Raniri (w. 1658), Syekh ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili (w.1693), Syamsuddin Al Sumatrani (w. 1630) di Aceh, Sultan Alaudin Al Makasari (1639) dan Syekh Yusuf Al-Makasari (w. 1699) di Sulawesi, Syekh Abdus Somad Al-Falembani (w. 1789) di Palembang, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (w. 1812) di Kalimantan , Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879) di Banten. Begitu pula di Nusa Tenggara Barat, muncul tokoh-tokoh penting yang mengembangkan Islam seperti Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi, hingga berkembangnya sejumlah pesantren di Lombok oleh beberapa tokoh, seperti; Tgh.Saleh Hambali (w. 1968), Tgh. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (w. 1997), Tgh.Ibrahim Al-Khalidi (w. 1993), dan tokoh-tokoh lainnya.


B. Biografi Sunan Maulana Malik Ibrahim


Sunan Maulana Malik Ibrahim disebut juga Sunan Gersik, berasal dari Kashan, Persia. Ia dikenal dengan nama kakek Bantal. Silsilah keturunannya tersambung dengan Nabi Muhammad Saw. melalui Fatimah Az-Azahra r.a dan Ali bin Abi Thalib dari jalur Husain bin Ali r.a.


Pada tahun 1371 M. Sunan Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa dengan saudaranya Maulana Mahpur, Sayid Yusuf Mahrabi, dan 40 orang pengiring. Mereka datang ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam sambil berdagang. Desa Sembalo menjadi daerah yang pertama kali dituju, sebuah tempat dekat desa Leran, Kabupaten Gresik, sekitar 9 kilometer dari arah utara Kota Gresik. lokasinya tidak jauh dari makam Fatimah binti Maimun (w. 475 H/1082 M). 


Dalam menyiarkan agama Islam, Sunan Maulana Malik Ibrahim mula-mula dengan berdagang, membuka toko, menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dan menjualnya dengan harga murah, di dekat pelabuhan yang berlokasi di desa Rumo. Melalui kegiatan dagang Ia dapat berintraksi dengan berbagai kalangan, pelaku jual-beli, pemodal , pemilikkapal dan pihak-pihak yang terkait dengan aktifitas perdagangan.

Ia juga belajar bahasa daerah untuk mempermudah komunikasi dan kelancaran dakwahnya, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Maulana Malik Ibrahim dapat meyesuaikan diri dengan masyarakat baik dalam menghadiri upacara-upacara perkawinan maupun acara-acara lainnya. Bahkan ia pun menjadi juru damai apabila menemui 

masyarakat yang berselisih. Berkat kesungguhan dan tanggung jawabnya menyebarkan Islam, ia dapat mendapat kepercayaan dari masyarakat, dan berkat taufik dan hidayah Allah Swt. satu demi satu mereka memeluk agama Islam. 

Dalam kesehariannya, Maulana Malik Ibrahim tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan yang dianut penduduk asli. Ia berusaha menyampaikan keindahan dan kebaikan yang dibawa Islam. 

Setelah merasa dakwahnya cukup berhasil di desa Sembalo, ia pindah ke Kota Gresik, dan tinggal di Desa Sawo. Selang beberapa lama, ia mulai menyiarkan Islam ke kalangan Istana Majapahit. Kemudian mendatangi Raja Majapahit dan menyampaikan kebenaran agama Islam, tapi sang Raja belum menerima ajakannya, namun memberikan penghargaan dengan memberikan sebidang tanah di pinggiran Kota Gresik yang kemudian dikenal dengan desa Gapura. Di tempat inilah Sunan Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren dan menyampaikan kebenaran Islam kepada masyarakat. 

Terdapat penjelasan dalam bahasa Arab pada inskripsi batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim, bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah seorang tokoh terhormat yang terhormat. Terjemahan inskripsi tersebut sebagai berikut:

- Guru kebanggaan para pangeran

- Penasehat Raja dan para menteri

- Yang santun dan dermawan kepada pakir miskin

- Yang berbahagia karena syahid 

Sunan Maulana Malik Ibrahim wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 H/ 8 April 1419. Tanggal wafatnya tertera pada prasasti makamnya di desa Gapura, Kota Gresik, Jawa Timur. 

C. Peran Maulana Malik Ibrahim dalam Mengembangkan Islam di Indonesia

Diantara peran penting Sunan Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan Islam di Indonesia, yaitu:

- Menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan

- Mendakwahkan Islam kepada keluarga kerajaan Majapahit

- Membangun masjid dan pesantren sebagai pusat dakwah 

Islam

D. Sikap Positif Dalam Pribadi Maulana Malik Ibrahim 

Dalam perjuangannya menyebar dan mengembangkan dakwah Islam, Sunan Maulana Malik Ibrahim menyampaikan ajaran Islam melalui sikap positif yang dapat diteladani, diantaranya:

1. Melakukan dakwah secara bertahap atau tadriji. Dalam dakwahnya, Sunan Maulana Malik Ibrahim mengajarkan agama Islam secara bertahap, tidak ada ajaran agama yang diberlakukan secara mendadak, semuanya melalui proses penyesuaian. 

2. Gigih dan tangguh dalam berdakwah. Kegigihan dan ketangguhan dalam menyebarkan agama Islam terbukti dari perjalanan jauh, merantau dari tanah kelahirannya Kashan (sekarang masuk wilayah Iran) menuju tanah Jawa melalui jalur laut yang melelahkan.

3. Santun dan dermawan dalam berdakwah. Sikap ini ditunjukkan ketika berdagang dengan menggelar pasar murah, dan selalu berbagi kepada fakir miskin. Kekayaaannya diperuntukkan untuk berdakwah di jalan Allah Swt. 

4. Toleran dan selalu menjalin hubungan baik antar-sesama. Hubungan baik yang ditunjukkan pada masyarakat luas dan penguasa Majapahit menjadikannya sosok guru yang dibanggakan dan menghantarkannya diangkat menjadi penasehat raja dan menteri Kerajaan Majapahit pada masanya.